Rabu, 28 Agustus 2019

MENGENAL MASJID AL AQSHO

Buletin El Fata 

Edisi 13   Jumat  30  Agustus 2019 / 29  Dzulhijjah 1440 H





MENGENAL  MASJID  AL AQSHO


Dalam membicarakan kota Jerusalem atau Baitul Maqdis, tentu tak terlepas dari Masjidil Aqsa yang terdapat di dalamnya.

Masjid Al Aqsho merupakan kiblat umat Muslim pertama kali. Selama 16-17 bulan kaum muslimin sholat menghadap Masjid Al Aqsho, sebelum akhirnya turun surat Al Baqarah ayat 144 yang memerintahkan untuk merubah kiblat menghadap ke Ka’bah.

Luas keseluruhan kompleks Masjid Al Aqsha adalah sekitar 144.000 meter persegi dan dapat menampung 400.000 jamaah.

Ada beberapa hadist dan ayat Al-Qur’an yang patut kita ketahui tentang masjid Al Aqsho, seperti diantaranya adalah:

1.       Masjid kedua dibangun dimuka bumi.

Masjid Al Aqsha adalah tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid Al Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dalam kepercayaan umat Islam, Masjid Al Aqsha adalah tempat ibadah tertua di dunia setelah Masjid Al Haram. Imam Muslim menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari:

Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. mengenai masjid yang mula-mula dibangun di atas bumi ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab, "Masjid Al-Haram." Saya bertanya, "Kemudian masjid mana?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab, "Masjid Al Aqsha." Saya bertanya, "Berapa jarak waktu antara keduanya?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab, "Empat puluh tahun. Kemudian seluruh bumi Allah adalah tempat sujud bagimu. Maka di manapun kamu mendapati waktu salat, maka shalatlah."[Sunarto, Achmad (2002). Terjemah Hadits Shahih Muslim, Penerbit Hussaini, Bandung. Hlm. 246.

2.       Sholat didalamnya berpotensi menebus dosa

Baitul Maqdis telah dibangun Nabi Sulaiman pada masanya sebagai rumah ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda. “Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Dawud membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara. (Yaitu), meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ; serta memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bila selesai membangun masjid, agar tidak ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu, kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya, seperti hari kelahirannya” (Dalam riwayat lain berbunyi : Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Adapun yang dua, maka telah diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun dikabulkan)” [Hadits ini diriwayatkan An-Nasa’i, dan ini lafadz beliau, Ahmad dalam musnad-nya Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Haakim dalam kitab Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman].

3.       Berdiri ditanah yang diberkahi
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Surat Al-Isra’, ayat : 1)

Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkah dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.

4.       Masjidil Aqsa adalah  diantara 3 masjid yang diminta Rasulullah kepada umatnya untuk dikunjungi.
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَ
“Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

5.       Baitul Maqdis juga merupakan tempat dibangkitkan dan dikumpulkan setelah kiamat nanti.

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya bahwa Maimunah, saudara perempuan Sa’ad dan pembantu Rasulullah SAW, berkata : Wahai Nabi, berikanlah kami sebuah pernyataan tentang Baitul Maqdis.’ Nabi menjawab, ‘Dia adalah tanah tempat manusia dibangkitkan dan dikumpulkan.” (HR. Ahmad).

6.       Sholat didalamnya berpahala 1.000 kali sholat dimasjid selainya.

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
Maimunah binti Sa’ad dalam hadits tentang berziarah ke Masjid Al Aqsha menyebutkan, "Ya Nabi Allah, berikan fatwa kepadaku tentang Baitul Maqdis." Nabi bersabda, "Tempat dikumpulkannya dan disebarkannya (manusia). Maka datangilah ia dan shalat di dalamnya, karena shalat di dalamnya seperti salat 1.000 rakaat di selainnya." Maimunah berkata lagi, "Bagaimana jika aku tidak bisa?" "Maka berikanlah minyak untuk penerangannya. Barang siapa yang memberikannya maka seolah ia telah mendatanginya."[HR. Ibu Majah)

7.       Tempat Singgah Isra’-Mi’raj Nabi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ
Artinya: “Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya. Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar.” (HR Muslim).


Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat: Dr.Jamaluddin, Sp.M(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : M Khoirul Amd  Editor: Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris: Pandu. Bendahara: Raka. Desain: Rizki. Distribusi dan Logistik: Tofa. Telp : 085642154046 Blog : https://buletinelfata.blogspot.com Alamat Redaksi: Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 


MENGENAL MASJID AL HARAM


Buletin El Fata 

Edisi 12     Jumat  16  Agustus 2019 / 15  Dzulhijjah 1440 H





MENGENAL  MASJID  AL HARAM

Setiap Muslim mengetahui, Mekkah merupakan tempat yang sangat mulia. Setiap muslim memiliki impian untuk bisa menjejakkan kaki di kota itu. Baik untuk mengerjakan ibadah haji ataupun umrah saja. Kerinduan bertandang ke sana tetap besar, terlebih bagi orang yang pernah merasakan kenikmatan berada di kota suci tersebut.

Al-Masjid al-Haram (bahasa Arab:( المسجد الحرام)  adalah sebuah masjid yang berlokasi di pusat kota Mekkah yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka'bah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah Salat. Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di dunia, diikuti oleh Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah sebagai masjid terbesar kedua di dunia serta merupakan dua masjid suci utama bagi umat Muslim. Luas keseluruhan masjid ini mencapai 356800 m2 dengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 jamaah ketika musim haji dan mampu bertambah menjadi dua juta jamaah ketika salat Ied.

Kepentingan masjid ini sangat diperhitungkan dalam agama Islam, karena selain menjadi kiblat, masjid ini juga menjadi tempat bagi para jamaah haji melakukan beberapa ritual wajib, yaitu tawaf, dan sa'i.
Sejarah Masjidil Haram tidak lepas dari pembangunan Kakbah jauh sebelum Nabi Adam diciptakan. Setelah Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi, mereka diperintahkan oleh Allah untuk membangun bangunan di sebuah lembah yang bernama Bakkah (saat ini menjadi bagian dari Kota Mekkah al-Mukarramah)[4]. Namun bangunan tersebut hancur akibat air bah pada masa Nabi Nuh. Sampai beberapa abad kemudian, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Isma'il untuk membangun sebuah bangunan di tengah perempatan kota Mekkah untuk dijadikan tempat beribadah Mereka berdua lah yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim di sekitar Kakbah. Sejak pembangunan tersebut, Kakbah dan Masjidil Haram dijaga oleh para keturunan Isma'il.

Bangunan Bersejarah :

Kakbah

Kakbah, sebuah bangunan yang terletak di tengah Masjidil Haram
Kakbah adalah Bait Suci atau tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali didirikan di muka bumi. Bentuk bangunan Kakbah mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam) dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal-hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat. Selain itu, Kakbah juga merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.

Hajar Aswad
Orang-orang berebut mencium Hajar Aswad.
Hajar Aswad (Arab: حجر أسود) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad, karena Rasulullah selalu menciumnya setiap saat tawaf.

Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim merupakan bangunan yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebuh 20 hasta di sebelah timur Ka'bah. Tempat ini bukanlah tempat yang menjadi kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat kebanyakan orang. Sebaliknya di dalam bangunan kecil ini terdapat sebuah batu yang diturunkan oleh Allah dari Surga bersamaan dengan dengan batu-batu kecil lainnya yang terdapat di Hajar Aswad. Di atas batu Maqam Ibrahim ini, Nabi Ibrahim pernah berdiri di waktu ia membangun Ka'bah disampingnya putranya Nabi Isma'il memberikan bongkah-bongkah batu kepadanya.

Shofa dan Marwah
Masjidil Haram merupakan tempat dari Ka'bah, titik tujuan utama salat bagi seluruh muslim. Shofa — yang merupakan tempat dimulainya ritual sa'i (Arab: سعى) — terletak kurang lebih setengah mil dari Ka'bah. Marwah terletak sekitar 100 yard dari Ka'bah. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 kilometer. Kedua tempat itu dan jalan diantaranya sekarang berada di dalam bagian mesjid.

Hijr Isma'il
Hijr Ismail adalah sebuah tempat sebelah utara bangunan Ka'bah, berbentuk setengah lingkaran, dibangun oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, termasuk bangunan suci umat Islam.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membangun Ka’bah secara sempurna termasuk di dalamnya Hijr ini. Kemudian dinding Ka’bah sempat roboh akibat bekas kebakaran dan banjir yang menerjangnya. Kemudian pada tahun 606 M, kaum Quraisy merobohkan sisa dinding Ka’bah lalu merenovasi kembali. Akan tetapi, karena kekurangan dana yang halal untuk menyempurnakan pembangunan sesuai pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akhirnya mereka mengeluarkan bagian bangunan hijr dan sebagai gantinya mereka membangun dinding pendek, sebagai tanda bahwa ia termasuk bangunan dari Ka’bah. Hal ini dilakukan karena mereka telah memberikan syarat pada diri mereka sendiri untuk tidak akan menggunakan dana untuk pembangunan Ka'bah kecuali dari dana yang halal. Mereka tidak menerima biaya dari hasil pelacuran, tidak juga jual beli riba dan tidak juga dana dari menzalimi seseorang

Sumur Zam-zam
Sumur Zamzam terletak 11 meter dari Ka'bah. Menurut salah satu keterangan, ia dapat menyedot air sebanyak 11-18,5 liter per detik, sehingga dapat menghasilkan 660 liter air permenit dan 39.600 liter per jamnya.

Dari mata air ini terdapat beberapa celah, di antaranya ada celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm, dengan tinggi 30 cm yang juga menghasilkan air sangat banyak. Beberapa celah mengarah kepada Shafa dan Marwa, serta ada yang mengarah pula ke arah pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm.

Dahulu, di atas sumur Zamzam ada bangunan dengan luas 8 m × 10,7 m = 88.8 m2. Tapi bangunan ini ditiadakan untuk meluaskan tempat tawaf, sehingga ruang minumnya dipindahkan ke ruang bawah tanah di bawah tempat tawaf, dengan 23 anak tangga yang dilengkapi penyejuk udara. Tempat masuk ruang minumnya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di situ, terdapat 350 keran air minum, yaitu 220 ada di sisi ruang laki-laki dan 130 di sisi ruang perempuan. Sumur Zamzam yang telah dipagari dengan kaca tebal itu dapat dilihat dari ruangan laki-laki .

Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat: Dr.Jamaluddin, Sp.M(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : M Khoirul Amd  Editor: Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris: Pandu. Bendahara: Raka. Desain: Rizki. Distribusi dan Logistik: Tofa. Telp : 085642154046 Blog : https://buletinelfata.blogspot.com Alamat Redaksi: Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 








URGENSI ILMU

Buletin El Fata 
 Edisi    01    Jumat  10  Mei  201






URGENSI   ILMU


Ilmu pengetahuan adalah hal yang penting bagi kehidupan agar manusia dapat mencapai salah satu tujuan penciptaan manusia, yaitu menjadi khalifah di bumi. Oleh sebab itu seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu agar dapat memahami hakikat kehidupan dan isinya serta mengetahui bagaimana proses penciptaan manusia dan makhluk lainnya, agar kita mengerti akan hakikat penciptaan manusia, sehingga bertambah keimanan mereka terhadap Allah SWT.

Keutamaan menuntut ilmu agama sangatlah banyak, bahkan telah terhimpun lebih dari seratus keutamaan ilmu syar’i dalam kitab   miftah daaris sa’adah. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan  ilmu agama. Disini akan kita sebutkan beberapa keutamaan ilmu agama yang sangat penting untuk diketahui, agar lebih memotivasi dalam belajar, diantaranya adalah sebagai berikut :

1)      Ilmu Menyebabkan Dimudahkannya Jalan menuju Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699).

Dikatakan bahwa ilmu memudahkan seseorang menempuh jalan menuju surga.  Karena hanya dengan ilmu lah manusia mengerti mana yang haq dan mana yang bathil. hanya, mana dosa mana pahala. Dengan begitu maka sangat wajar jika para pemburu ilmu dimudahkan jalannya menuju surga.

2)      Tanda cinta Allah kepada hamba

Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ( متفق عليه)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi seseorang maka Allah akan pahamkan ilmu agama kepadanya. (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).).

Diantara tanda cinta Allah kepada hambanya ialah dengan memahamkan hamba tersebut terhadap ajaran agama-Nya. Dengan memahami hukum-hkum syariat Islam maka orang akan terbimbing menjadi pribadi yang sholeh, sehingga Allah ridho dan cinta.

 



kepada dirinya. Mustahil seorang manusia menjadi baik dan sholeh tanpa adanya wawasan agama yang memadai. Jadi dapat kita simpulkan bahwa tanda cinta Allah kepada hambanya itu bukan dari seberapa banyak materi yang Allah berikan kepada hamba tersebut, akan tetapi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya ialah dengan dilihat seberapa luas Allah memahamkan agama kepada hamba tersebut.

3)      Ilmu yang bermanfaat akan kekal, sedang harta akan musnah

        Disebutkan dalam sebuah  hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
 “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR.Muslim no. 1631).

Meski ilmu sifatnya abstrak atau tidak tampak dan tidak bisa diraba, namun ilmu mempunyai sifat langgeng. Ilmu yang bermanfaat akan terus dipelajari dan diamalkan dari zaman ke zaman sehingga dengan begitu ilmu akan memberikan efek pahala bagi siapa saja yang berkecimpung mempelajari dan mengajarkannya, meski orang tersebut telah meninggal dunia, dan inilah yang dinamakan amal jariyah.

4)      Ilmu mengantarkan kepada takut kepada Allah.

Hal ini bisa direnungkan dalam ayat berikut,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Proses mengenal Allah tidak sebagaimana halnya manusia yang berkenalan antara satu dengan yang lain. Allah itu ghaib (tidak terlihat oleh mata) namun Allah tampak terlihat keberadaanya pada setiap kuasanya. Untuk bisa menjelajahi setiap kuasanya maka perlu adanya ilmu. Ilmu tersebut telah Allah SWT banyak paparkan didalam firman-Nya dan juga sunnah Nabi-Nya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).
Inilah yang dikatakan sebagai ilmu yang sebenarnya. Semakin luas ilmu yang dipelajari maka seseorang akan semakin merunduk dan tawadhu.  (by: eiruelamirudin@gmail.com)


Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat : Dr.Jamaludin, S.pM(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : Khoirul Amd  Editor : Dra. Afri Asiatin Apt. Sekertaris : Pandu. Bendahar : Raka Desigh Desain : Rizki Telp : 085642154046 Email : pemudaelfata@gmail.com
Alamat Redaksi : Centra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 








AL ILMU QOBLAL ‘AMAL (Berilmu Sebelum Beramal)


Buletin El Fata 
 Edisi    02    Jumat  10  Mei  2019 / 12  Romadhon  1440 H





AL ILMU QOBLAL ‘AMAL
(Berilmu Sebelum Beramal)


Ayat yang pertama kali turun adalah tentang perintah membaca, mengumpulkan informasi yang terserak agar menjadi kesatuan untuk kemudian ditelaah sehingga melahirkan sebuah makna yang bisa dipahami. Itulah perintah IQRA !
Apabila kita menjalankan iqra dalam hal apa pun, niscaya Allah Ta’ala akan membukakan aneka kebaikan dan kemanfaatkan dari apa yang kita lakukan. Shalat, zakat, puasa, berhaji, dan semua amal ibadah tidak akan lagi menjadi misteri yang tertutup tabir gelap apabila kita mengawalinya dengan proses iqra.
Sejatinya, ibadah kita menjadi tidak optimal karena konsep iqra kita tidak jalan. Padahal, secara hierarki, sebelum beriman dan beramal saleh, kita diperintahkan untuk melakukan proses berpikir terlebih dahulu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam muqodimah kitab sohihnya ;
الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Ilmu itu dimiliki sebelum berkata dan beramal.” (Muqaddimah Shahih Al-Bukhari).
Maksudnya, setiap orang harus memiliki ilmu sebelum mengatakan suatu ucapan dan melakukan suatu perbuatan.
Yang mengakibatkan setiap orang terjerumus dalam sebuah kesalahan dan dosa dari suatu hal yang diucapkan maupun lakukan, adalah karena tidak mempelajari ilmu yang menjelaskan tentang hukum dari hal tersebut sebelumnya. Sebab dengan ilmu, kita akan terdidik, terarah pada jalan yang benar !.
Ingat, setiap omongan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabanya, Allah azza wa jalla berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36).

Perkataan Ulama’ :

1.    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata; “Umat manusia jauh lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman hanya dibutuhkannya dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sepanjang waktu.” (Al-Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, hlm.91).

2.    Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan :
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

3.    Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat banyak kerusakan dari pada mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh namun, jangan sampai meninggalkan ibadah! Gemarlah beribadah namun, jangan sampai meninggalkan ilmu! Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah namun, meninggalkan belajar.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299-300)

4.    Umar bin al-Khottob radhiyallaahu ‘anhu berkata :
تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا
“Belajarlah ilmu sebelum menjadi pemimpin” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Umar bin al-Khottob radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ
“Janganlah berjualan di pasar kami orang yang belum paham tentang ilmu agama” (riwayat at Tirmidzi)

5.    Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu berkata:
يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم كيف يعيبون سهر الحمقى
وصيامهم ومثقال ذرة من بر صاحب تقوى ويقين أعظم وأفضل وأرجح من أمثال الجبال من عبادة المغترين
“Duhai seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana bisa orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin (berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan amalan sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh)”. (Hilyatul Awliyaa’ juz 1 halaman 211).

Makna ucapan Sahabat Nabi Abu Darda’ ini bahwa tidur serta makan minumnya orang yang berilmu jauh lebih besar keutamaannya dibandingkan puasa dan qiyamul lailnya orang yang bodoh. Hal ini terjadi karena setiap aktifitas ahli ilmu selalu bersesuaian dengan.

6.    Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita menjadi seorang muslim sejati, yang mengikuti jalan kebenaran dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu. Semoga melalui tulisan ini, Allah jadikan sebab ilmu yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca, sehingga dengannya kita bisa beramal dengan ilmu. Amiin. (by: eiruelamirudin@gmail.com)


Text Box: Buletin el-Fata :
Penasehat : Dr.Jamaluddin, S.pM(K) , Sulaiman S.Ag. M.Pdi Pimpinan Redaksi : M Khoirul Amd  Editor : Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris : Pandu. Bendahara : Raka Desain : Rizki Telp : 085642154046 Email : pemudaelfata@gmail.com Alamat Redaksi : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 






SEMANGAT MENUNTUT ILMU


Buletin El Fata 
 Edisi 3    Jumat  24  Juli  2019 / 19  Romadhon 1440 H





SEMANGAT MENUNTUT ILMU


Ketika kita melihat sejarah para ulama-ulama pendahulu kita dalam semangat tholabul ilmi maka akan kita dapati sebuah perbedaan yang sangat jauh dan tak sebanding dengan zaman kita sekarang. Berikut kami kutipkan secuil perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu, berharap agar kitapun juga termotivasi dengan sejarah mereka.

1.    Datang lebih awal, menempati shof pertama.
Jafar bin Darustuwaih rahimahullah menceritakan; “Aku memesan (memboking) tempat di majelis ilmu Ali bin Madini pada waktu ashar hari ini, untuk majelis besok hari. Maka aku duduk di tempat tersebut sepanjang malam, aku takut besok hari ada orang lain yang mendahuluiku menempati tempatku ini untuk mendengarkan hadits. Dan aku juga melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut, sedang buang air kecil dalam sebuah wadah kecil sambil menutupkan dengan bajunya sampai selesai, karena dia takut ada orang lain yang mengambil tempat duduknya, jika dia pergi untuk buang air kecil.”(Al-Jaami Li Akhlak Ar-Rawi Wa Adab As-Sami, 1:152)
Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tempat belajar pada waktu itu, bukanlah di masjid, karena tidak akan cukup untuk menampung banyaknya penuntut ilmu yang hadir. Akan tetapi, di sebuah tanah lapang yang luas dan dapat menampung banyak orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, agar dapat mendengarkan pengajian (penjelasan ilmu) dengan jelas.
Sudah seberapa besar pengorbanan yang telah kita buktikan dan kerahkan untuk mempelajari ilmu Islam? Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti contoh kebaikan dan semangat dari orang-orang shalih dalam menuntut ilmu.

2.    Tiada rotan akarpun jadi
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata; “Aku seorang yatim yang tinggal bersama ibuku. Ibuku menyerahkan aku ke Kuttab (sekolah yang ada di masjid). Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikannya kepada sang pengajar (guru) sebagai upahnya mengajariku. Aku mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian aku menghafalkannya. Dan ibuku juga tidak memiliki sesuatu apa pun untuk membelikan kertas untukku. Maka setiap aku menemukan sebuah tulang putih, aku mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, aku menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”. (Jamiu Bayani Al-Ilmi Wa Fadhilihi, 1:98)
Masyaallaah laa quwwata illa billah! Apakah keadaan kita lebih miskin dari beliau? Ataukah kita berfikir, bahwa beliau adalah orang yang lebih hina dari diri kita? Beliau adalah seorang ulama yang namanya mayoritas muslim pasti pernah mendengarnya dan mengenalnya. Beliau adalah seorang ulama yang ilmunya diakui oleh seluruh umat Islam dan tidak ada yang meragukannya!

3.    Tetap semangat dengan modal seadanya.
Salim Ar-Razy rahimahullah menceritakan; “Bahwa Syaikh Hamid Al-Isfirayaini dahulu adalah seorang penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu di tempat jaganya, karena beliau terlalu faqir, sehingga beliau tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya, dan beliau makan dari upahnya sebagai penjaga.” (Thabaqatu Asy-Syafiiyah Al-Kubra, 4:61)
Sebuah ketegaran dan kegigihan seorang penuntut ilmu yang meskipun dia dalam keadaan sangat miskin dan memiliki sebuah pekerjaan namun, keadaannya dan pekerjaannya tersebut tidak menjadi penghalang untuknya tetap belajar!

4.    Demi ilmu, tidak melihat jarak dan waktu
Said bin Al-Musayyab rahimahullah mengatakan; “Aku terbiasa melakukan rihlah (perjalanan) berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits.” (Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 9:100)
Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah sebanyak dua kali. Dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun, secara berturut-turut. (Tadzkiratu Al-Huffadz, 2:630)
Perlu diketahui bahwa alam di Arab tidak seperti di Indonesia yang alamnaya teropis, banyak pepohonan sepanjang perjalanan. Alam di Arab lebih adalah alam gurun pasir yang ketika siang begitu panas menyengat sedang ketika malam dingin merasuk tulang. Dengan keadaan alam seperti ini para ulama kita terdahulu masih mempunyai semangat yang tinggi demi sebuah ilmu. Bagaimana dengan kita ? Kita hidup pada zaman dimana gampang menjumpai majelis ilmu seharusnya lebih giat lagi dalam mencari ilmu. Semoga Allah memudahkan kita. Amiin.

5.    Rela bayar mahal
Ali bin Ashim rahimahullah bercerita; “Ayahku memberiku 100.000 dirham dan berkata kepadaku: Pergilah (untuk belajar hadits) dan aku tidak mau melihat wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits!” (Tadzkiratu Al-Huffadz, 1:317)
Ayah dari Yahya bin Main adalah seorang sekretaris dari Abdullah bin Malik rahimahumullaah. Ketika wafat, Ayahnya meninggalkan 100.000 dirham untuk Yahya. Namun, Yahya bin Main membelanjakan semua hartanya tersebut untuk belajar hadits dan tidak ada yang tersisa dari hartanya, kecuali sandal yang bisa dia pakai. (Tahdzib At-Tahdzib, 11:282)
Meskipun kisah di atas adalah tentang mencari hadits, tapi yang dimaksudkan adalah ilmu. Karena agama Islam adalah agama ilmu, tanpa ilmu seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, agar tercapai tujuan diciptakannya manusia. 2 pilar ilmu dalam agama islam adalah : Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sabda Rasulullah).
Semoga Allah menjadikan semangat yang kita miliki untuk mempelajari agama ini, seperti air yang tidak mudah padam dan akan terus berjalan, meskipun banyaknya rintangan yang menghalangi. Walaupun kita tidak akan bisa menyamai seperti semangatnya para ulama, setidaknya kita bisa mendekati mereka dengan segala usaha yang kita mampu lakukan.
Setelah kita mempelajari kisah semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu, maka selanjutnya yang harus kita ketahui adalah: Apa alasan yang membuat mereka sangat semangat dalam mempelajari ilmu?
Jawabannya adalah : karena Allah melarang para hambaNya mengikuti dan melakukan sesuatu tanpa ilmu.Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36)
Kesimpulan, bahwa Ilmu adalah sebuah kebutuhan dasar manusia hidup, tanpanya tak ada artinya hidup. Berkata Al Ghozali : “(Di hadapan para muridnya) Fath al-Mushili rahimahullah berkata, : ‘Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?’  Mereka pun menjawab, “Iya benar, akan mati.’ ‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati.” ( Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8)
            (by: eiruelamirudin@gmail.com).

---------

Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat : Dr.Jamaluddin, S.pM(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : Khoirul Amd  Editor : Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris : Pandu. Bendahara : Raka. Desain : Rizki. Distribusi dan Logistik : Tofa. Telp : 085642154046 Email elfatamedia@gmail.com Alamat Redaksi : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 




Text Box: Alamat : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah JL. Jamburaya No.159 Perumnas Kamal Bangkalan.

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...