Rabu, 28 Agustus 2019

AL ILMU QOBLAL ‘AMAL (Berilmu Sebelum Beramal)


Buletin El Fata 
 Edisi    02    Jumat  10  Mei  2019 / 12  Romadhon  1440 H





AL ILMU QOBLAL ‘AMAL
(Berilmu Sebelum Beramal)


Ayat yang pertama kali turun adalah tentang perintah membaca, mengumpulkan informasi yang terserak agar menjadi kesatuan untuk kemudian ditelaah sehingga melahirkan sebuah makna yang bisa dipahami. Itulah perintah IQRA !
Apabila kita menjalankan iqra dalam hal apa pun, niscaya Allah Ta’ala akan membukakan aneka kebaikan dan kemanfaatkan dari apa yang kita lakukan. Shalat, zakat, puasa, berhaji, dan semua amal ibadah tidak akan lagi menjadi misteri yang tertutup tabir gelap apabila kita mengawalinya dengan proses iqra.
Sejatinya, ibadah kita menjadi tidak optimal karena konsep iqra kita tidak jalan. Padahal, secara hierarki, sebelum beriman dan beramal saleh, kita diperintahkan untuk melakukan proses berpikir terlebih dahulu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam muqodimah kitab sohihnya ;
الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Ilmu itu dimiliki sebelum berkata dan beramal.” (Muqaddimah Shahih Al-Bukhari).
Maksudnya, setiap orang harus memiliki ilmu sebelum mengatakan suatu ucapan dan melakukan suatu perbuatan.
Yang mengakibatkan setiap orang terjerumus dalam sebuah kesalahan dan dosa dari suatu hal yang diucapkan maupun lakukan, adalah karena tidak mempelajari ilmu yang menjelaskan tentang hukum dari hal tersebut sebelumnya. Sebab dengan ilmu, kita akan terdidik, terarah pada jalan yang benar !.
Ingat, setiap omongan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabanya, Allah azza wa jalla berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36).

Perkataan Ulama’ :

1.    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata; “Umat manusia jauh lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman hanya dibutuhkannya dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sepanjang waktu.” (Al-Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, hlm.91).

2.    Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan :
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

3.    Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat banyak kerusakan dari pada mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh namun, jangan sampai meninggalkan ibadah! Gemarlah beribadah namun, jangan sampai meninggalkan ilmu! Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah namun, meninggalkan belajar.”
(Miftah Dari As-Saadah, 1:299-300)

4.    Umar bin al-Khottob radhiyallaahu ‘anhu berkata :
تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا
“Belajarlah ilmu sebelum menjadi pemimpin” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Umar bin al-Khottob radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ
“Janganlah berjualan di pasar kami orang yang belum paham tentang ilmu agama” (riwayat at Tirmidzi)

5.    Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu berkata:
يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم كيف يعيبون سهر الحمقى
وصيامهم ومثقال ذرة من بر صاحب تقوى ويقين أعظم وأفضل وأرجح من أمثال الجبال من عبادة المغترين
“Duhai seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana bisa orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin (berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan amalan sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh)”. (Hilyatul Awliyaa’ juz 1 halaman 211).

Makna ucapan Sahabat Nabi Abu Darda’ ini bahwa tidur serta makan minumnya orang yang berilmu jauh lebih besar keutamaannya dibandingkan puasa dan qiyamul lailnya orang yang bodoh. Hal ini terjadi karena setiap aktifitas ahli ilmu selalu bersesuaian dengan.

6.    Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).

Semoga Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita menjadi seorang muslim sejati, yang mengikuti jalan kebenaran dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu. Semoga melalui tulisan ini, Allah jadikan sebab ilmu yang bermanfaat untuk diri Penulis dan para Pembaca, sehingga dengannya kita bisa beramal dengan ilmu. Amiin. (by: eiruelamirudin@gmail.com)


Text Box: Buletin el-Fata :
Penasehat : Dr.Jamaluddin, S.pM(K) , Sulaiman S.Ag. M.Pdi Pimpinan Redaksi : M Khoirul Amd  Editor : Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris : Pandu. Bendahara : Raka Desain : Rizki Telp : 085642154046 Email : pemudaelfata@gmail.com Alamat Redaksi : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...