Buletin El Fata
Edisi 02 Jum’at 10 Mei 2019 / 12 Romadhon 1440 H
AL ILMU QOBLAL
‘AMAL
(Berilmu Sebelum Beramal)
Ayat yang pertama kali turun adalah
tentang perintah membaca, mengumpulkan informasi yang terserak agar menjadi
kesatuan untuk kemudian ditelaah sehingga melahirkan sebuah makna yang bisa
dipahami. Itulah perintah IQRA !
Apabila kita menjalankan iqra dalam hal apa pun, niscaya Allah
Ta’ala akan membukakan aneka kebaikan dan kemanfaatkan dari apa yang kita
lakukan. Shalat, zakat, puasa, berhaji, dan semua amal ibadah tidak akan lagi
menjadi misteri yang tertutup tabir gelap apabila kita mengawalinya dengan
proses iqra.
Sejatinya,
ibadah kita menjadi tidak optimal karena konsep iqra kita tidak jalan. Padahal,
secara hierarki, sebelum beriman dan beramal saleh, kita diperintahkan untuk
melakukan proses berpikir terlebih dahulu.
Imam
Bukhari rahimahullah berkata dalam muqodimah kitab sohihnya ;
الْعِلْمُ
قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
“Ilmu
itu dimiliki sebelum berkata dan beramal.” (Muqaddimah Shahih Al-Bukhari).
Maksudnya,
setiap orang harus memiliki ilmu sebelum mengatakan suatu ucapan dan melakukan
suatu perbuatan.
Yang mengakibatkan setiap orang
terjerumus dalam sebuah kesalahan dan dosa dari suatu hal yang diucapkan maupun
lakukan, adalah karena tidak mempelajari ilmu yang menjelaskan tentang hukum
dari hal tersebut sebelumnya. Sebab dengan ilmu, kita akan terdidik, terarah
pada jalan yang benar !.
Ingat, setiap omongan dan perbuatan akan dimintai
pertanggungjawabanya, Allah azza wa jalla berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan
janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu)
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36).
Perkataan
Ulama’ :
1.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata; “Umat
manusia jauh lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan
dan minuman. Sebab makanan dan minuman hanya dibutuhkannya dalam sehari sekali
atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sepanjang waktu.” (Al-Ilmu Fadhluhu
Wa Syarafuhu, hlm.91).
2.
Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan :
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu
adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
3.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ
كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ
اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا
بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ
فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang
yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang
sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya akan membuat banyak kerusakan
dari pada mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh namun,
jangan sampai meninggalkan ibadah! Gemarlah beribadah namun, jangan sampai
meninggalkan ilmu! Karena ada segolongan orang yang rajin beribadah namun,
meninggalkan belajar.”
(Miftah
Dari As-Saadah, 1:299-300)
4.
Umar bin al-Khottob radhiyallaahu ‘anhu berkata :
تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا
“Belajarlah
ilmu sebelum menjadi pemimpin” (Riwayat
Ibnu Abi Syaibah)
Umar
bin al-Khottob radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ
تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ
“Janganlah
berjualan di pasar kami orang yang belum paham tentang ilmu agama” (riwayat at Tirmidzi)
5. Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu
berkata:
يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم كيف يعيبون سهر
الحمقى
وصيامهم ومثقال ذرة من بر صاحب تقوى ويقين أعظم
وأفضل وأرجح من أمثال الجبال من عبادة المغترين
“Duhai
seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana
bisa orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang
bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin
(berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan
amalan sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh)”. (Hilyatul Awliyaa’ juz 1 halaman 211).
Makna
ucapan Sahabat Nabi Abu Darda’ ini bahwa tidur serta makan minumnya orang yang
berilmu jauh lebih besar keutamaannya dibandingkan puasa dan qiyamul lailnya
orang yang bodoh. Hal ini terjadi karena setiap aktifitas ahli ilmu selalu
bersesuaian dengan.
6. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah
berkata:
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ
كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح
“Barangsiapa
yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak
dibandingkan memperbaiki” (Dari kitab Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383).
Semoga
Allah azza wa jalla memberikan kemudahan untuk kita menjadi seorang muslim
sejati, yang mengikuti jalan kebenaran dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu. Semoga
melalui tulisan ini, Allah jadikan sebab ilmu yang bermanfaat untuk diri
Penulis dan para Pembaca, sehingga dengannya kita bisa beramal dengan ilmu. Amiin.
(by: eiruelamirudin@gmail.com)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar