Jumat, 24 April 2020

Pool-test Hafidz



Pool-test Hafidz





Oleh : Dahlan Iskan


Saya harus meminta maaf. Kok saya telat mengetahui ide besar ini: pool test Covid-19.
Coba sejak awal tahu ini maka sebenarnya lockdown tidak penting. PSBB tidak penting. Social distancing tidak penting. Berhenti berbisnis tidak penting.
Asal ide pool test ini bisa dijalankan. Covid-19 pun bisa diatasi. Bisnis tetap bisa berjalan.
Pemilik ide ini adalah --lagi-lagi-- 'anak' ITB (Institut Teknologi Bandung). Ia alumnus 1998. Teknik elektro. Masternya juga di ITB. Juga teknik elektro.
Nama lengkapnya: Hafidz Ary Nurhadi. Waktu kuliah Hafidz tinggal di asrama Masjid Salman. Ia menjadi ketua di asrama itu.
"Itu bukan ide saya. Tapi saya membuat modifikasinya," ujar Hafidz kepada saya kemarin.
Ide asalnya sendiri dari Jerman.
Prinsip yang digunakan adalah matematika dan algoritma.
Ide dasarnya: jangan sampai yang tidak kena Covid-19 ikut terkarantina. Seperti sekarang ini. Pun di Amerika. Ekonomi pun macet.
Selama ini kita yang tidak bervirus diperlakukan seperti ber-Covid. Akhirnya semuanya macet. Semua tersiksa. Sampai tidak boleh mudik --hanya boleh pulang kampung.
Dasar pemikirannya juga sama: penanganan terbaik Covid-19 adalah: semua penduduk dites swab.
Tapi itu tidak realistis. Mahalnya bukan main.
Alat untuk mengambil mukus sendiri sebenarnya murah. Mukus itu bentuknya lendir. Diambil dari bagian yang sangat dalam di dalam hidung. Di dekat tenggorokan.
Mukus itu lantas diproses. Proses itulah yang mahal. Satu orang bisa Rp 1 juta. Satu kota Jakarta bisa Rp 12 triliun.
Lihatlah kronologi proses tes swab ini.
Pertama, mukus itu harus di masukkan ke dalam cairan VTM --virus transfer medium.
Berarti harus membeli cairan VTM itu. Yang harganya mahal.
Mukus yang sudah bercampur VTM dimasukkan ke reagen. Berarti harus membeli reagen. Yang harganya juga mahal.
Mukus dari satu orang itu, dimasukkan VTM yang khusus disediakan untuk satu orang itu, dimasukkan lagi ke reagen yang juga khusus untuk satu orang itu. Maka mahal-mahal-mahal.
Ide Hafidz adalah --maafkan saya perlu narik nafas panjang dulu: tes itu jangan dilakukan orang per orang!
Lakukanlah tes itu perlokasi besar. Misalnya Pulau Bali. Pulau wisata penting ini bisa jadi satu lokasi terpisah. Atau Pulau Lombok. Atau mana pun.
Kalau untuk Jawa kelihatannya harus se-Jawa sekaligus.
Atau bisa saja ada bupati yang siap menjalankannya untuk satu kabupatennya. Dengan konsekwensi kabupaten itu diisolasi dulu. Paling hanya satu minggu. Penduduk tetap bebas beraktivitas apa pun. Asal di dalam kabupaten itu.
Biayanya tidak semahal tes swab orang-per-orang. Nanti ada hitungannya. Di bagian bawah.
Menurut Hafidz semua orang di satu wilayah yang sudah ditentukan harus diambil mukus mereka. Sekali ambil untuk dua sampel.
Mengambil mukus sekaligus untuk dua sampel hampir tidak menambah kesibukan. Maupun biaya.
Maka ambillah tiap orang dua sampel mukus. Jangan hanya satu sampel.
Bagilah satu pulau atau satu kabupaten ke dalam wilayah-wilayah terkecil. Baiknya, wilayah kecil itu adalah satu RT.
Maka tiap RT di satu kabupaten menjadi satu pool terkecil. Mukus semua warga RT itu diambil bersama-sama --mungkin perlu waktu tiga jam.
Untuk satu RT - -katakanlah 150 orang-- hanya diperlukan VTM satu unit. Mukus orang satu RT dimasukkan ke satu VTM saja.
Berikutnya VTM yang sudah tercampur mukus orang satu RT itu dimasukkan reagen.
Kalau hasilnya positif, barulah satu RT itu di-lockdown. Atau di PSBB.
Kalau hasilnya negatif berarti satu RT itu negatif semua. Merdeka!
Tapi jangan bebas dulu. Tunggu hasil RT sebelah. Dan sebelahnya lagi. Dan sebelahnya lagi.
Dalam tiga hari satu kabupaten sudah bisa diketahui hasilnya.
Berarti satu kabupaten itu telah merdeka.
Bagaimana kalau di satu RT hasilnya positif?
Itulah gunanya mengambil mukus dua sampel. Kan sampel mukus kedua masih ada. Maka khusus untuk RT-Positif lakukanlah proses berikut: sampel mukus individual tadi dimasukkan VTM individual. Lalu dimasukkan reagen individual.
Maka ketahuanlah siapa di RT-Positif tersebut yang ternyata positif.
Dengan demikian tidak lagi harus satu RT di-lockdown. Cukuplah warga yang positif itu saja.
Jelaslah: kabupaten itu tidak perlu lockdown. Demikian juga kabupaten sebelah. Pun kabupaten sebelah lagi. Se-Jawa.
Bagi pulau seperti Bali atau Lombok atau yang setara itu lebih mudah lagi.
Itulah yang disebut pool-test system.
Saya sudah minta maaf ke Hafidz. Kok baru tadi malam meneleponnya. Padahal ia sudah menghubungi saya 16 jam sebelumnya.
Waktu pertama ide ini disampaikan, saya berterus terang: perlu waktu untuk memahaminya. Saya bukan ahli matematika --rapor pelajaran berhitung saya selalu merah. Saya tidak paham algoritma. Saya agak pusing memahami rumus-rumus simulasi yang ia kirim lewat WA.
Tapi sejak 16 jam itu saya sudah bisa memahami roh persoalannya: ini penting sekali. Ini mendasar sekali.
Tinggal memutuskan: mau atau tidak mau.
Hafidz, anak Jakarta (SD Johar Baru, SMAN 8) ini memang istemewa. Ia bersama temannya --alumni Informatika ITB-- mendirikan satu perusahaan: membuat program komputerisasi penilaian ujian sekolah.
Saat ia membuat itu baru ada satu program sejenis di Indonesia --milik dosennya. Dan ia membuat yang beda, yang lebih sempurna --meski ia tidak mau mengatakan itu.
Masih banyak lagi sepak terjangnya. Dua tahun lalu ia mendirikan sekolah dasar (SD) Galenia di Jalan Dago --tidak jauh dari ITB.
Hafidz (kemeja batik, dua dari kanan).
Keistimewaan SD itu: mata pelajarannya hanya tiga.
"Hanya tiga mata pelajaran?" tanya saya takut salah dengar.
"Iya. Hanya tiga," jawab Hafidz.
"Apa saja itu?"
“Bahasa Inggris, matematika dan Bahasa Indonesia," jawabnya.
Ia merasa saya heran atas mata pelajaran nomor tiga itu. Maka Hafidz buru-buru menjelaskan: pelajaran Bahasa Indonesia perlu agar lulusannya nanti pandai berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan.
Oh... Rupanya Hafidz sadar. Utamanya karena ia sendiri orang teknik --elektro pula: orang teknik lemah dalam sastra.
Sebenarnya ada satu mata pelajaran lagi. Tapi ia tidak menyebutnya pelajaran: renang.
"Itu pelajaran olahraga," kata saya.
"Bukan," jawabnya, "Itu sarana untuk membuat lebih percaya diri".
Orang yang tidak bisa berenang, katanya, kurang percaya diri. Apalagi kalau sudah harus menyeberang laut. Dan lagi "pelajaran" renang itu hanya tiga bulan. Setelah bisa renang ya sudah.
Ups... Ada pelajaran lain lagi: menghafal Alquran. Tapi ia tidak mau menyebutkan itu mata pelajaran. Itu ibadah.
"Anda sendiri hafal Alquran?" tanya saya.
"Belum. Masih dalam proses," katanya merendah.
Dalam hal pool-test Covid-19 tadi Hafidz sebenarnya menyampaikan kepada saya hitung-hitungannya secara rinci.
Saya pikir menarik juga untuk disampaikan di bagian bawah DI's Way hari ini. Tapi ketika tulisan sampai di sini saya berpikir ulang: untuk apa ya ditulis di sini? Bukankah belum tentu ide ini bisa diterima? Wong, Hafidz sudah ke mana-mana pun belum mendapat respon menggembirakan?
Melaksanakan ide Hafidz ini memang sulit. Tapi ada yang lebih sulit lagi: melahirkan kemauan itu.(Dahlan Iskan).

https://www.disway.id/r/911/pool-test-hafidz

Kamis, 23 April 2020

Puasa dan Managemen Imunitas


          Puasa dan Managemen Imunitas





Oleh : Dr., dr., Achmad Zainullah, Sp.P.

Rasanya, tak seorangpun yang pernah membayangkan akan hidup di tengah-tengah pandemi Covid-19. Sangat mungkin, tak seorang Muslim-pun di puluhan tahun terakhir ini sempat “bermimpi” akan menunaikan puasa di saat wabah penyakit yang lebih berpeluang menyerang orang dengan imunitas rendah sedang berkecamuk. Atas itu semua, tetaplah melangkah dengan rasa syukur. Sebab, sebuah penelitian S3 dan telah lulus diuji limabelas tahun lalu, berkesimpulan bahwa imunitas selama puasa Ramadhan meningkat dan dalam rentang sehat secara fisiologis.

***

Untuk apa Berpuasa? Demikian judul sebuah buku, yang substansinya bukan tak mungkin cukup mewakili pertanyaan banyak orang. Pendek kata, apa manfaat puasa? Bukankah, penelitian di Barat menyebutkan puasa bisa menimbulkan rasa tak nyaman bekerja, penyakit infeksi saluran pernapasan, gangguan muscular performance, dan gangguan kewaspadaan? 

Penelitian yang menghasilkan kesimpulan adanya dampat tak bagus akibat puasa, terjadi karena: Pertama, salah memilih objek yang diteliti. Objek yang mereka teliti seharusnya Muslim yang beriman. Hal ini, karena Al-Qur`an dengan tegas menyatakan perintah puasa itu hanya untuk orang beriman (QS 2: 183). Kedua, puasanya dikonsepkan sebagai model keadaan orang yang kelaparan. Penelitian model ini, menyimpulkan bahwa “puasa” menurunkan imunitas.   

Objek dan materi yang diteliti di Barat itu berbeda dengan penelitaian yang pernah saya lakukan. Semuanya (yaitu objek penelitian dan konsep puasa), dalam kerangka dan perspektif Islam. Oleh karena itu, saya betul-betul selektif ketika menentukan objek penelitian. Lalu, saat itu, saya memilih santri Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Hasilnya, pada 2005 saya bisa membuktikan lewat disertasi yang –alhamdulillah- telah teruji, bahwa puasa itu betul-betul menyehatkan.

Penelitian saya menyimpulkan bahwa puasa itu meningkatkan potensi responsifitas limfosit, yaitu sel yang berfungsi mengatur irama sistem imunitas (kekebalan tubuh). 

Imunitas adalah pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Dalam keadaan sehat atau optimal, imunitas berfungsi secara efisien, sehingga tubuh dapat terhindar dari dampak yang tidak menguntungkan akibat kehadiran substansi asing. Sistem imun yang terpapar oleh imunogen atau patogen (kuman) akan meresponsnya sehingga tubuh kebal terhadap patogen tersebut.

Puasa yang menimbulkan sakit bisa terjadi karena pelaksanaannya dipersepsi sebagai beban. Akibatnya, pengaruh perubahan irama sirkardian (irama biologis tubuh yang bersifat menetap karena sudah menjadi pola) akan predominan sehingga menurunkan imunitas.

Puasa yang dilaksanakan dengan iman yang mantap, apalagi dengan dasar cinta dan semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT, persepsinya akan menuju positive coping style (bentuk penanggulangan stimulus yang positif), sehingga menimbulkan ketenangan. Selanjutnya, ketenangan dapat memperbaiki imunitas.

Hasil penelitian saya menyebutkan bahwa pelaksanaan puasa yang mencapai fase ketenangan merupakan coping mechanism (mekanisme penanggulangan stres) yang positif. Ini dapat mengubah kualitas stres ke fase adaptasi, sehingga puasa ditanggapi sebagai stimulus yang menyenangkan (eustress). Lalu, pusat reward (pengendalian rasa senang) di hipotalamus yang menempati area tertentu di otak, akan merespons berupa penurunan pelepasan corticotropin-releasing hormone (CRH).

Pelepasan hormon CRH yang terkendali akan menyebabkan sekresi (pengeluaran) adrenocorticotropin hormone (ACTH) oleh hipofisis anterior juga terkendali, sehingga pelepasan kortisol sebagai salah satu hormon stres ke dalam darah juga terkendali. Puasa yang mencapai ketenangan berpotensi sebagai stimulus yang menyenangkan bagi tubuh sehingga akan dapat meningkatkan imunitas.

Pelaku puasa mengalami penjadwalan ulang pemasukan bahan untuk keperluan biologis (makan, minum), dari siang hari ke malam hari. Juga, perubahan pola tidur karena aktivitas ibadah shalat tarawih di malam hari serta mengerjakan sahur. Ini menyebabkan perubahan irama sirkardian tubuh diubah dari pola diurnal (aktif di siang hari) menjadi nokturnal (lebih aktif di malam hari) dibandingkan sebelum berpuasa.

Perubahan pola aktivitas tersebut berpotensi untuk menurunkan imunitas. Namun, perubahan kebiasaan tersebut dapat diterima sebagai stressor (stimulus penyebab stres) yang dapat diadaptasi. Perubahan pola makan itu periodik, tetapi tidak terus-menerus (intermitten fasting), sehingga memberi kesempatan adaptasi.

Respons individu terhadap perubahan saat berpuasa, dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat mengubah kualitas stres. Mekanisme demikian akan terjadi pada pelaksana puasa yang berniat ibadah dengan ikhlas. Sebaliknya, coping mechanism yang negatif tidak efektif, dan itu dapat memperburuk kesehatan serta memperbesar potensi sakit.

Orang yang berpuasa semestinya melaksanakan shalat tarawih, memperbanyak mengkaji Al-Qur`an, dan menghindari hal yang tidak berfaedah supaya terhindar dari berpuasa yang sia-sia (yaitu hanya mendapat lapar dan haus saja). Hal tersebut mendorong pelaku puasa mengendalikan nafsu dan emosi serta meningkatkan imannya.

Puasa yang dilaksanakan dengan iman dan selalu dzikir dengan tujuan taqarrub akan mendatangkan ketenangan sebagaiman firman Allah dalam Al-Qur`an 13: 28.

Puasa Ramadan yang dilaksanakan dengan iman akan mendatangkan ketenangan. Coping mechanism yang positif dan efektif akan menyebabkan tubuh dapat beradaptasi dan diharapkan kadar hormon stres kortisol dalam darah terkendali, sehingga dapat mendorong perbaikan imunitas.

Selama berpuasa, terjadi perubahan imunitas dalam rentang fisiologis dan tidak menimbullkan dampak patologis. Juga terjadi penurunan stimulasi sistem syaraf simpatetik pada tahap akhir puasa. Stimulasi sistem syaraf simpatetik yang berlebihan selama aktivitas harian sebenarnya diharapkan menurun dengan shalat lima waktu, tidur yang efektif, sehingga stres psikologis harian bisa hilang. Namun, apabila aktivitas harian sedemikian besarnya, maka stres harian tersebut masih tersisa setelah bangun tidur.

Dengan berpuasa sebulan Ramadan berlandaskan iman yang mantap (dengan mengendalikan emosi dan nafsu), diharapkan dapat mengurangi atau meniadakan sisa stres psikologis (yang merugikan) yang tertumpuk selama sebelas bulan beraktivitas. Pada gilirannya, setelah berpuasa terjadi kondisi kesehatan yang optimal. Hal yang disebut terakhir ini kemudian bisa saya buktikan lewat penelitian ilmiah.

Jadi, ajaran Islam (terutama dalam hal ini, puasa) benar dan mengandung manfaat besar bagi manusia. Sebagai Muslim yang berkesempatan meneliti secara ilmiah soal puasa, saya semakin yakin bahwa ritual agama Islam bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selamat berpuasa Ramadan!

* Penulis lulus program S-3 pada 1 September 2005 dengan disertasi: “Perubahan Respons Psikoneuroimunologis pada Pelaksana Puasa Ramadhan” di Universitas Airlangga

Minggu, 19 April 2020

Vaksin Bill Gates Jangan Digunakan di Indonesia. Mengapa?



Vaksin Bill Gates Jangan Digunakan di Indonesia. Mengapa?




Oleh : Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)


Bill Gates telah menyiapkan vaksinasi corona sebanyak 7 milliar penghuni dunia. Bahkan sudah mulai akan dilakukan uji coba nya. 

Yang lebih mengkhawatirkan untuk mencapai obsesinya  Bill Gates telah menjalin hubungan dengan pemerintah negara-negara seluruh dunia termasuk Indonesia  agar vaksinnya menjadi program resmi pemerintah. Maka bersama ini saya sampaikan kewaspadaan terhadap hal tersebut.

Untuk menghadapi wabah Corona di Indonesia, sebaiknya pemerintah tidak menggunakan vaksin yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan farmasi yang berkaitan dengan Bill Gates.

Karena ada beberapa hal yang harus menjadi concern  kita: 

Satu, Kapan dia (Bill Gates-red) mulai membuat vaksin?  Pembuatan vaksin memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Kalau Billgates sudah siap dengan vaksin Corona  sekarang  kapan dia punya seed virus nya? Apa sebelum pandemic Corona? Apalagi pada tahun 2015 dia telah mengumumkan akan ada pandemik besar di 2020.

Dua, Seed virus Corona  dari strain negara mana yang digunakan oleh Bill Gates  dan kawan-kawan untuk membuat vaksin? Menurut para ahli di dunia  virus corona  sampai sekarang masih terus berubah-ubah, bermutasi terus dan kabarnya  sekarang  menjadi 3 clade bahkan  ada yang  mengatakan telah menjadi 6 clade. Maka seed virus yang mana yang dijadikan vaksin  oleh Billgates? Sampai sekarang tidak jelas

Tiga, Vaksin  Billgates akan dipasang microchip.  Konon digunakan untuk memantau  orang yang  diberi vaksin tersebut. Sedangkan kita tidak tahu dampak negatif apa dari microchip tersebut terhadap tubuh kita dalam jangka panjang? Apa betul microchip itu hanya untuk tanda seperti yang dia katakan?  Tidak ada bukti sama sekali.  Kita wajib waspada karena Bill Gates mempunyai proyek ambisius yaitu depopulasi demi mengatur populasi sedunia. 

Empat, pertanyaan yang menggelitik muncul.  Kalau Bill Gates sudah mulai membuat vaksin saat ini apakah dia telah memiliki virus Coorna sebelum pandemi terjadi?
Maka tidak heran bila  beberapa peneliti dunia mengatakan  bahwa pandemi Corona saat ini tidak natural.

Menurut saya  Indonesia saat ini tidak perlu vaksin  Coorna karena virusnya sangat labil. Dan kita tidak punya data yang valid mana orang yang positif corona dan negatif.

Demi ketahanan nasional kita,  andaikan kita pada suatu saat memerlukan vaksin (ada syarat  tertentu),--   (maka-red) kita harus mampu membuat vaksin mandiri dengan strain kita sendiri, dengan keamanan yang bisa kita percaya tidak ditumpangi kepentingan politik bangsa lain.  Saatnya kita mandiri dalam melindungi rakyat kita. Ingat kesehatan adalah kunci utama  Ketahanan Nasional

Vaksinasi dan Microchip Bill Gates

Sebelumnya, dikabarkan sebuah vaksin anti-corona akan diuji coba secara klinis setelah mendapat restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Vaksin itu diajukan oleh perusahaan bio teknologi yang berbasis di Pennsylvania, AS bernama Inovio Pharmaceuticals. Pengembangan vaksin ini, turut disokong oleh pendiri Microsoft, Bill Gates, beserta sang istri, Melinda Gates melalui yayasan Bill and Melinda Gates Foundation. Hal ini disiarkan dalam https://tekno.kompas.com/read/2020/04/08/16030077/vaksin-anti-corona-yang-didanai-bill-gates-siap-diuji-coba

Sambil melakukan vaksinasi Bill Gates akan memasang microchip ke dalam tubuh orang yang divaksinasi. Hal ini seperi yang diberitakan di dalam https://nypost.com/2020/04/13/roger-stone-bill-gates-may-have-created-coronavirus-to-microchip-people/

Padahal beberapa penemuan terakhir menunjukkan bahwa virus Corona tidak stabil dan sudah berkali-kali terjadi mutasi, seperti diberitakan didalam https://nypost.com/2020/04/14/newly-found-coronavirus-mutation-could-threaten-vaccine-race-study-says/  

Beberapa tahun sebelumnya, dalam beberapa kali pertemuan Bill Gates sudah sering menyampaikan rencananya untuk melakukan depopulasi untuk mengontrol penduduk dunia dengan menggunakan vaksinasi, seperti yang terekam dalam akun youtube https://www.youtube.com/watch?v=iMl0ty6evhU.

Rabu, 15 April 2020

Eks Menkes Siti Fadilah Supari melontarkan kritik atas buruknya penanganan pandemi Covid-19.


   
Siti Fadilah: Saya hanya bisa menangis karena tak bisa berbuat apa-apa




Eks Menkes Siti Fadilah Supari melontarkan kritik atas buruknya penanganan pandemi Covid-19.

Di tengah kian masifnya pertambahan jumlah kasus positif Covid-19, sebuah petisi online diluncurkan di situs Change.org, awal Maret lalu. Dalam petisi itu, para penggagas menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membebaskan eks Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari dari penjara. 

Menurut mereka, pengalaman dan kepakaran Siti dibutuhkan negara saat ini. Apalagi, perempuan yang kini genap berusia 70 tahun itu pernah menakhodai Indonesia keluar dari pandemi flu babi dan flu burung saat bertugas menjadi Menkes era Susilo Bambang Yudhoyono. 

Hingga kini, sudah lebih dari 20 ribu warganet yang menandatangani petisi itu. Selain di jagat maya, dukungan atas pembebasan Siti juga datang dari sejumlah politikus dan lembaga yang bergelut di bidang kesehatan. 

Eks Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bahkan telah menyerukan pembebasan Siti jauh sebelum petisi itu diluncurkan. Menurut Fahri, Siti dijebloskan ke penjara karena membongkar konspirasi antara World Health Organization (WHO) dan Amerika Serikat dalam bisnis vaksin. 

Lewat kurir, Alinea.id mewawancara perempuan kelahiran Surakarta itu di balik jeruji. Dalam pesan tertulis yang diterima Alinea.id, pekan lalu, Siti mengaku tak tahu-menahu ihwal petisi yang diluncurkan di Change.org itu. 

"Mungkin lho, ya, mereka merasa kurang puas dengan tata kelola pemerintah dalam menangani Covid-19. Terus, mereka mengharapkan saya untuk ikut membenahinya. Barangkali begitu," ujar Siti. 

Terkait penanganan pandemi, Siti menyarankan sejumlah solusi kepada pemerintah Jokowi, di antaranya memanfaatkan aset-aset yang dimiliki negara dalam penanganan pandemi sebelumnya serta mengebut proses screening dan contact tracing pasien positif Covid-19. 

Selain itu, Siti juga meminta pemerintah menempatkan orang-orang yang kompeten untuk memimpin penanggulanggan wabah Covid-19. "Ini bencana kesehatan, bukan bencana gempa atau tsunami. Penanganannya sangat beda," kata dia. 

Berikut petikan wawancara Alinea.id dengan Siti: 

Bisa diceritakan sedikit pengalaman Anda saat menangani pandemi flu burung dan flu babi? 

Pada waktu flu burung, saya bisa mematahkan secara saintifik bahwa pernyataan WHO yang mengatakan sudah terjadi human to human transmission itu bohong belaka. Itu karena mereka hanya menggunakan kriteria epidemiologi, sedangkan saya menggunakan virologi yang lebih definit.

Kemudian, saya protes ke PBB dan pernyataan pandemik dicabut oleh WHO pada 2006. Setelah itu, saya membuat resolusi yang akhirnya didukung oleh 128 negara. (Kami) menghadapi negara adidaya yang selama ini membiayai WHO dan membuat sistem yang tidak adil. Resolusi Indonesia,  di bawah kepemimpinan saya, berhasil disetujui di dunia tahun 2011. Mulai saat itu, lalu lintas virus ganas harus transparan. 

Saya itu tidak hanya menduga tentang kongkalingkong WHO dengan perusahaan-perusahaan farmasi. Tapi, saya melihat buktinya ketika parlemen Uni Eropa menggerebek WHO saat itu.

Untuk flu babi seperti apa? 

Waktu itu terjadi di tahun 2009. Pada pertengahan tahun 2008, saya tahu virus H1N1 Puerto Rico, yang kemudian disebut flu babi, itu berada di CDC (Centre for Disease Control and Prevention) Atlanta. Saya tahu dan berkomunikasi dengan pejabatnya di sana. 

Sewaktu WHO mengembalikan virus H5N1 yang saya minta, ternyata ada yang tercampur dengan H1N1. Ketika pandemi flu babi merebak, saya meneriakkan bahwa virus itu berasal dari laboratorium besar dan bukan berasal dari binatang seperti yang dikatakan WHO. Suara saya ternyata ada gayung bersambut dengan para ahli dari Kanada dan Eropa. Akhirnya, pandemi itu berhenti. Hanya Meksiko yang hancur ekonominya.

Indonesia belum terimbas sama sekali karena saya bekerja sama dengan negara yang ada di perbatasan dengan Indonesia, yaitu Singapura, Brunei, Malaysia yakni, bila ada WNI H1N1 positif, tidak boleh masuk Indonesia. Saya minta tolong agar diobati dulu di negara Singapura, Malaysia atau Brunei dan saya handle sendiri untuk mengumumkan hasil pemeriksaan spesimen orang yang suspect. 

Apa kunci keberhasilan pemerintah ketika itu? 

Pertama, pemimpin dalam mengatasi pandemik flu burung, waktu itu Menkes, menguasai substansi ilmiah tentang virus outbreak maupun substansi politik kesehatan. Kedua, menguasai aturan internasional tentang kesehatan, antara lain IHR (International Health Regulation) tahun 2005. Kapan pandemik boleh di-declare dan sebagainya. Jadi, kita tidak bisa ditipu oleh lembaga, yaitu WHO.

Ketiga, tidak takut dengan siapa pun untuk melindungi bangsa dan negaranya. Keempat, menggalang  kekuatan politik antarnegara di dunia dengan transparency, equity dan fairness. Ternyata negara besar seperti Inggris, Rusia, Prancis, Jerman, India, dan China langsung berdiri di belakang kita ketika kita berhasil meyakinkan mereka bahwa yang kita perjuangkan adalah untuk keselamatan dunia.

Saat ini, pemerintah pusat kerap terlibat silang pendapat dengan pemerintah daerah dalam penanganan Covid-19. Pada saat Anda memimpin penanganan flu burung, apakah situasi seperti ini juga terjadi?  

Waktu saya mimpin penanganan flu burung, tidak ada tarik-menarik antara pusat dan daerah. Sepertinya ada UU Otonomi Daerah, kalau ada bencana nasional, the leader adalah pusat. Waktu itu kompak banget. Saya yang mimpin, Bapak SBY tut wuri handayani. Kalau beliau kurang paham atau punya pandangan lain, saya dipanggil untuk diskusi. Saya sangat apresiasi sikap beliau dalam memimpin, menempatkan ahli di tempatnya. Beliau mengikuti, menolong bila dibutuhkan, memberikan semangat, dan menguatkan aturan birokrasi yang kami perlukan. 

Apa saja aset yang dimiliki bangsa ini untuk melawan pandemi Covid-19?

Terus terang saya menangis. Sebenarnya Covid-19 ini bisa dilawan di China ketika (kasus-kasus awal) mulai muncul pada 1 Januari sampai dengan 31 Januari. Tapi, itu tidak dilakukan oleh China dan berlanjut ke tanggal 11 Maret ketika Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi. Tidak seorang pun protes apakah kriteria PHEIC (Public Health Emergency of International Concern) yang (dikeluarkan WHO) tanggal 31 Januari itu benar? Dan, kriteria pandemik saat itu apakah sudah sesuai? Semuanya terjadi begitu saja. Padahal, waktu antara itu sangat penting untuk kita bersiap-bersiap. Tapi, tidak ada yang perhatian. 

Akhirnya (Covid-19 sampai) ke negara kita. Saya itu, meskipun saya dipenjara, saya ikuti terus detik demi detik. Saya hanya bisa menangis karena saya tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriak pun tidak akan didengarkan. Di sini yang para pemimpin lupa, team saya, waktu itu, sebenarnya adalah aset yang berharga karena berpengalaman langsung dengan pandemi dan bisa melihat solusinya. Tapi, tidak ada yang ingat. Mungkin, saya ada di dalam penjara, dipikir saya sudah jadi orang tolol. Ya, sudah, saya melihat saja dengan menangis. 

Rumus saya bahwa yang mimpin penanggulangan Covid-19, apa pun namanya, adalah harus orang yang menguasai substansi ilmiah dan substansi politik kesehatan sekaligus. Tampaknya, ini tidak terjadi dalam (penanganan) Covid-19 di Indonesia. Ini bencana kesehatan. Bukan bencana gempa atau tsunami. Penanganannya tentu sangat beda.

Aset-aset fisik dari (penangangan) flu burung sangat bisa digunakan. Misalnya, saya dulu membuat 100 ICU (intenstive care unit) khusus flu burung di seluruh Indonesia. Saya dulu juga sangat dekat dengan ahli virologi seluruh Indonesia untuk membuat program pencegahan dan sebagainya. Lab litbangkes yang sekarang adalah peninggalan (penanganan) flu burung yang sangat baik, misalnya, di RS Sulianti Saroso dan sebagainya.    

Para guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menganggap institusi dan fasilitas kesehatan kita tidak bakal mampu mengatasi pertambahan pasien yang masif karena Covid-19. Anda sepakat? 

Fasilitas rumah sakit tidak akan mampu mengatasi ledakan (jumlah) orang sakit karena Covid-19. Maka, yang harus dikerjakan adalah pencegahan yang efektif, yaitu physical distancing dan screening masif dan serentak. Dengan begitu, akan jelas mana yang positif dan negatif Covid-19. 

Screening harus menggunakan swab test yang sesuai dengan virus kita, setara dengan pemeriksaan menggunakan PCR (polymerase chain reaction), tapi langsung bisa dibaca (hasilnya). Yang menggunakan metode ini Korea, Singapura, Middle East. Kita belum punya. Tapi, (alat) rapid test yang dibeli ada harus dilihat juga. Ada risikonya karena virusnya memang tidak sama. 

Selain itu, membuat isolasi mandiri. Itu untuk yang positif asimtomatik dan akan mengurangi penderita berat. Membuka rumah sakit yang menampung banyak pasien baik, tapi harus disertai infrastruktur yang betul.

Hari-hari ini, DKI Jakarta dengan fasilitas dan infrastruktur kesehatan relatif komplet saja kewalahan. Kondisi daerah tentu bakal lebih parah. Solusinya apa?

Memang infrastruktur kesehatan kita tidak akan bisa menampung penderita Covid-19 bila cara pencegahannya masih seperti ini. 

Jokowi telah menetapkan status darurat kesehatan masyarakat dan mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk meredam wabah Covid-19. Anda menilai itu cukup?

PSBB baik bila dijalankan dengan disiplin, tapi itu tidak akan efektif bila tidak disertai screening masif serentak dengan swab rapid test yang sesuai dengan virus kita. 

Anda sepakat tidak perlu karantina wilayah atau lockdown? 

Tidak perlu lockdown. Keputusan politik Pak Jokowi sudah tepat karena lockdown akan berdampak buruk terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi, sedangkan untuk dampak kesehatannya tidak akan banyak berbeda dengan PSBB. 

Lockdown risiko ekonominya pasti lebih berat dari PSBB, sedangkan risiko politiknya, bisa-bisa kita kehilangan kedaulatan bangsa. Untuk mencegah penyebaran Covid-19 hanya dengan screening masif dan serentak, di samping pemberlakuan PSBB. Kemudian, yang positif diisolasi. 

Sejumlah negara memang tidak menempuh lockdown tapi berhasil melawan Covid-19, contohnya Korsel. Tapi Korsel bertindak cepat dengan melakukan screening secara luas. Indonesia kan tidak melakukan itu. Pendapat Anda?

Kunci Korsel mencegah penularan terletak pada screening masif dan serentak pada waktu penderita positif masih sedikit.

PSBB dianggap belum efektif di lapangan. Apa yang membuat Anda yakin kebijakan ini lebih baik ketimbang lockdown? 

PSBB harus lebih diaktifkan dan dengan berkeadilan sosial, tapi harus sesuai dengan preambul (UUD) 45 yang mengatakan bahwa pemerintah harus melindungi rakyatnya sebaik-baiknya. 

Khusus untuk screening massal, apa saran Anda supaya efektif? Perlukah tes massal Covid-19 digratiskan bagi warga miskin sebagaimana di AS dan Korsel?

Syarat satu, screening masal harus masif serentak terhadap jumlah yang besar. Kedua, menggunakan alat tes cepat yang setara PCR dan sesuai dengan virus kita. Ketiga, dilaksanakan dengan sistematis dan harus gratis. 

Untuk deteksi Covid-19, Indonesia sepertinya masih kebingungan. Semula pakai RT-PCR. Dikritik hasilnya terlalu lama, maka pemerintah menambah rapid test. Tapi, itu juga dikritik karena tidak akurat. Kini, diusulkan pakai TCM yang biasa dipakai untuk mendeteksi TBC. Menurut Anda, pilihan mana yang cocok untuk Indonesia?

Untuk mendeteksi virus, saya sarankan dengan PCR dengan spesifikasi primer yang sesuai dengan virus Indonesia. Untuk TCM, saya tidak tahu apakah itu kompatibel untuk Indonesia. Sekali lagi, (kuncinya pada) screening masif serentak dengan swab rapid test yang sesuai dengan virus Indonesia.

Banyak pihak menilai pemerintah terlambat merespons Covid-19. Pemerintah dinilai meremehkan. Anda setuju itu?

Saya tidak mau menjawab. 

Seperti negara lain, Indonesia juga berjuang menemukan vaksin untuk Covid-19. Anda yakin kita bisa melakukan itu?

Menurut saya, tidak perlu vaksin dalam waktu sekarang ini. 

Menurut Anda, apakah kerja sama internasional untuk menangani pandemi Covid-19 sudah cukup baik? 

Saya tidak melihat kerja sama internasional yang menonjol untuk meringankan beban negara kita dalam menghadapi Covid-19.

Sumber :
https://www.alinea.id/nasional/dari-balik-jeruji-siti-fadilah-saya-hanya-bisa-menangis-b1ZLt9tq4
www.covid19.go.id
15 April 2020 

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...