Rabu, 28 Agustus 2019

SEMANGAT MENUNTUT ILMU


Buletin El Fata 
 Edisi 3    Jumat  24  Juli  2019 / 19  Romadhon 1440 H





SEMANGAT MENUNTUT ILMU


Ketika kita melihat sejarah para ulama-ulama pendahulu kita dalam semangat tholabul ilmi maka akan kita dapati sebuah perbedaan yang sangat jauh dan tak sebanding dengan zaman kita sekarang. Berikut kami kutipkan secuil perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu, berharap agar kitapun juga termotivasi dengan sejarah mereka.

1.    Datang lebih awal, menempati shof pertama.
Jafar bin Darustuwaih rahimahullah menceritakan; “Aku memesan (memboking) tempat di majelis ilmu Ali bin Madini pada waktu ashar hari ini, untuk majelis besok hari. Maka aku duduk di tempat tersebut sepanjang malam, aku takut besok hari ada orang lain yang mendahuluiku menempati tempatku ini untuk mendengarkan hadits. Dan aku juga melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut, sedang buang air kecil dalam sebuah wadah kecil sambil menutupkan dengan bajunya sampai selesai, karena dia takut ada orang lain yang mengambil tempat duduknya, jika dia pergi untuk buang air kecil.”(Al-Jaami Li Akhlak Ar-Rawi Wa Adab As-Sami, 1:152)
Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tempat belajar pada waktu itu, bukanlah di masjid, karena tidak akan cukup untuk menampung banyaknya penuntut ilmu yang hadir. Akan tetapi, di sebuah tanah lapang yang luas dan dapat menampung banyak orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, agar dapat mendengarkan pengajian (penjelasan ilmu) dengan jelas.
Sudah seberapa besar pengorbanan yang telah kita buktikan dan kerahkan untuk mempelajari ilmu Islam? Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti contoh kebaikan dan semangat dari orang-orang shalih dalam menuntut ilmu.

2.    Tiada rotan akarpun jadi
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata; “Aku seorang yatim yang tinggal bersama ibuku. Ibuku menyerahkan aku ke Kuttab (sekolah yang ada di masjid). Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikannya kepada sang pengajar (guru) sebagai upahnya mengajariku. Aku mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian aku menghafalkannya. Dan ibuku juga tidak memiliki sesuatu apa pun untuk membelikan kertas untukku. Maka setiap aku menemukan sebuah tulang putih, aku mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, aku menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”. (Jamiu Bayani Al-Ilmi Wa Fadhilihi, 1:98)
Masyaallaah laa quwwata illa billah! Apakah keadaan kita lebih miskin dari beliau? Ataukah kita berfikir, bahwa beliau adalah orang yang lebih hina dari diri kita? Beliau adalah seorang ulama yang namanya mayoritas muslim pasti pernah mendengarnya dan mengenalnya. Beliau adalah seorang ulama yang ilmunya diakui oleh seluruh umat Islam dan tidak ada yang meragukannya!

3.    Tetap semangat dengan modal seadanya.
Salim Ar-Razy rahimahullah menceritakan; “Bahwa Syaikh Hamid Al-Isfirayaini dahulu adalah seorang penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu di tempat jaganya, karena beliau terlalu faqir, sehingga beliau tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya, dan beliau makan dari upahnya sebagai penjaga.” (Thabaqatu Asy-Syafiiyah Al-Kubra, 4:61)
Sebuah ketegaran dan kegigihan seorang penuntut ilmu yang meskipun dia dalam keadaan sangat miskin dan memiliki sebuah pekerjaan namun, keadaannya dan pekerjaannya tersebut tidak menjadi penghalang untuknya tetap belajar!

4.    Demi ilmu, tidak melihat jarak dan waktu
Said bin Al-Musayyab rahimahullah mengatakan; “Aku terbiasa melakukan rihlah (perjalanan) berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits.” (Al-Bidayah Wa An-Nihayah, 9:100)
Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah sebanyak dua kali. Dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun, secara berturut-turut. (Tadzkiratu Al-Huffadz, 2:630)
Perlu diketahui bahwa alam di Arab tidak seperti di Indonesia yang alamnaya teropis, banyak pepohonan sepanjang perjalanan. Alam di Arab lebih adalah alam gurun pasir yang ketika siang begitu panas menyengat sedang ketika malam dingin merasuk tulang. Dengan keadaan alam seperti ini para ulama kita terdahulu masih mempunyai semangat yang tinggi demi sebuah ilmu. Bagaimana dengan kita ? Kita hidup pada zaman dimana gampang menjumpai majelis ilmu seharusnya lebih giat lagi dalam mencari ilmu. Semoga Allah memudahkan kita. Amiin.

5.    Rela bayar mahal
Ali bin Ashim rahimahullah bercerita; “Ayahku memberiku 100.000 dirham dan berkata kepadaku: Pergilah (untuk belajar hadits) dan aku tidak mau melihat wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits!” (Tadzkiratu Al-Huffadz, 1:317)
Ayah dari Yahya bin Main adalah seorang sekretaris dari Abdullah bin Malik rahimahumullaah. Ketika wafat, Ayahnya meninggalkan 100.000 dirham untuk Yahya. Namun, Yahya bin Main membelanjakan semua hartanya tersebut untuk belajar hadits dan tidak ada yang tersisa dari hartanya, kecuali sandal yang bisa dia pakai. (Tahdzib At-Tahdzib, 11:282)
Meskipun kisah di atas adalah tentang mencari hadits, tapi yang dimaksudkan adalah ilmu. Karena agama Islam adalah agama ilmu, tanpa ilmu seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, agar tercapai tujuan diciptakannya manusia. 2 pilar ilmu dalam agama islam adalah : Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sabda Rasulullah).
Semoga Allah menjadikan semangat yang kita miliki untuk mempelajari agama ini, seperti air yang tidak mudah padam dan akan terus berjalan, meskipun banyaknya rintangan yang menghalangi. Walaupun kita tidak akan bisa menyamai seperti semangatnya para ulama, setidaknya kita bisa mendekati mereka dengan segala usaha yang kita mampu lakukan.
Setelah kita mempelajari kisah semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu, maka selanjutnya yang harus kita ketahui adalah: Apa alasan yang membuat mereka sangat semangat dalam mempelajari ilmu?
Jawabannya adalah : karena Allah melarang para hambaNya mengikuti dan melakukan sesuatu tanpa ilmu.Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36)
Kesimpulan, bahwa Ilmu adalah sebuah kebutuhan dasar manusia hidup, tanpanya tak ada artinya hidup. Berkata Al Ghozali : “(Di hadapan para muridnya) Fath al-Mushili rahimahullah berkata, : ‘Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?’  Mereka pun menjawab, “Iya benar, akan mati.’ ‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati.” ( Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8)
            (by: eiruelamirudin@gmail.com).

---------

Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat : Dr.Jamaluddin, S.pM(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : Khoirul Amd  Editor : Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris : Pandu. Bendahara : Raka. Desain : Rizki. Distribusi dan Logistik : Tofa. Telp : 085642154046 Email elfatamedia@gmail.com Alamat Redaksi : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.
 




Text Box: Alamat : Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah JL. Jamburaya No.159 Perumnas Kamal Bangkalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...