Buletin El Fata
Edisi 3 Jum’at 24 Juli 2019 / 19 Romadhon 1440 H
SEMANGAT MENUNTUT ILMU
Ketika kita
melihat sejarah para ulama-ulama pendahulu kita dalam semangat tholabul ilmi
maka akan kita dapati sebuah perbedaan yang sangat jauh dan tak sebanding
dengan zaman kita sekarang. Berikut kami kutipkan secuil perjuangan para ulama
dalam menuntut ilmu, berharap agar kitapun juga termotivasi dengan sejarah
mereka.
1. Datang lebih
awal, menempati shof pertama.
Jafar bin Darustuwaih rahimahullah menceritakan; “Aku
memesan (memboking) tempat di majelis ilmu Ali bin Madini pada waktu ashar hari
ini, untuk majelis besok hari. Maka aku duduk di tempat tersebut sepanjang
malam, aku takut besok hari ada orang lain yang mendahuluiku menempati tempatku
ini untuk mendengarkan hadits. Dan aku juga melihat seseorang yang sudah tua di
majelis tersebut, sedang buang air kecil dalam sebuah wadah kecil sambil
menutupkan dengan bajunya sampai selesai, karena dia takut ada orang lain yang
mengambil tempat duduknya, jika dia pergi untuk buang air kecil.”(Al-Jaami
Li Akhlak Ar-Rawi Wa Adab As-Sami, 1:152)
Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tempat belajar pada waktu itu,
bukanlah di masjid, karena tidak akan cukup untuk menampung banyaknya penuntut
ilmu yang hadir. Akan tetapi, di sebuah tanah lapang yang luas dan dapat
menampung banyak orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk menjadi
yang terdepan, agar dapat mendengarkan pengajian (penjelasan ilmu) dengan
jelas.
Sudah seberapa besar pengorbanan yang telah kita buktikan dan kerahkan
untuk mempelajari ilmu Islam? Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti contoh
kebaikan dan semangat dari orang-orang shalih dalam menuntut ilmu.
2. Tiada rotan
akarpun jadi
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata; “Aku seorang yatim yang tinggal
bersama ibuku. Ibuku menyerahkan aku ke Kuttab (sekolah yang ada di masjid).
Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikannya kepada sang pengajar (guru)
sebagai upahnya mengajariku. Aku mendengar hadits atau pelajaran dari sang
pengajar, kemudian aku menghafalkannya. Dan ibuku juga tidak memiliki sesuatu
apa pun untuk membelikan kertas untukku. Maka setiap aku menemukan sebuah
tulang putih, aku mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh
tulisannya, aku menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”. (Jamiu Bayani
Al-Ilmi Wa Fadhilihi, 1:98)
Masyaallaah laa quwwata illa billah! Apakah keadaan kita lebih miskin
dari beliau? Ataukah kita berfikir, bahwa beliau adalah orang yang lebih hina
dari diri kita? Beliau adalah seorang ulama yang namanya mayoritas muslim pasti
pernah mendengarnya dan mengenalnya. Beliau adalah seorang ulama yang ilmunya
diakui oleh seluruh umat Islam dan tidak ada yang meragukannya!
3. Tetap
semangat dengan modal seadanya.
Salim Ar-Razy rahimahullah menceritakan; “Bahwa Syaikh Hamid Al-Isfirayaini
dahulu adalah seorang penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu
dengan cahaya lampu di tempat jaganya, karena beliau terlalu faqir, sehingga
beliau tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya, dan beliau makan dari
upahnya sebagai penjaga.” (Thabaqatu Asy-Syafiiyah Al-Kubra, 4:61)
Sebuah ketegaran dan kegigihan seorang penuntut ilmu yang meskipun dia
dalam keadaan sangat miskin dan memiliki sebuah pekerjaan namun, keadaannya dan
pekerjaannya tersebut tidak menjadi penghalang untuknya tetap belajar!
4. Demi ilmu,
tidak melihat jarak dan waktu
Said bin Al-Musayyab rahimahullah mengatakan; “Aku terbiasa melakukan
rihlah (perjalanan) berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits.” (Al-Bidayah
Wa An-Nihayah, 9:100)
Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah sebanyak dua kali. Dari Mesir ke
Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk
menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20
tahun, secara berturut-turut. (Tadzkiratu Al-Huffadz, 2:630)
Perlu diketahui bahwa alam di Arab tidak seperti di Indonesia yang
alamnaya teropis, banyak pepohonan sepanjang perjalanan. Alam di Arab lebih
adalah alam gurun pasir yang ketika siang begitu panas menyengat sedang ketika
malam dingin merasuk tulang. Dengan keadaan alam seperti ini para ulama kita
terdahulu masih mempunyai semangat yang tinggi demi sebuah ilmu. Bagaimana
dengan kita ? Kita hidup pada zaman dimana gampang menjumpai majelis ilmu
seharusnya lebih giat lagi dalam mencari ilmu. Semoga Allah memudahkan kita.
Amiin.
5. Rela bayar
mahal
Ali bin Ashim rahimahullah bercerita; “Ayahku memberiku 100.000 dirham
dan berkata kepadaku: Pergilah (untuk belajar hadits) dan aku tidak mau melihat
wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits!” (Tadzkiratu
Al-Huffadz, 1:317)
Ayah dari Yahya bin Main adalah seorang sekretaris dari Abdullah bin
Malik rahimahumullaah. Ketika wafat, Ayahnya meninggalkan 100.000 dirham untuk
Yahya. Namun, Yahya bin Main membelanjakan semua hartanya tersebut untuk
belajar hadits dan tidak ada yang tersisa dari hartanya, kecuali sandal yang
bisa dia pakai. (Tahdzib At-Tahdzib, 11:282)
Meskipun kisah di atas adalah tentang mencari hadits, tapi yang
dimaksudkan adalah ilmu. Karena agama Islam adalah agama ilmu, tanpa ilmu
seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, agar
tercapai tujuan diciptakannya manusia. 2 pilar ilmu dalam agama islam adalah :
Al-Quran (firman Allah) dan As-Sunnah (sabda Rasulullah).
Semoga Allah menjadikan semangat yang kita miliki untuk mempelajari agama
ini, seperti air yang tidak mudah padam dan akan terus berjalan, meskipun
banyaknya rintangan yang menghalangi. Walaupun kita tidak akan bisa menyamai
seperti semangatnya para ulama, setidaknya kita bisa mendekati mereka dengan
segala usaha yang kita mampu lakukan.
Setelah kita mempelajari kisah semangatnya para ulama dalam menuntut
ilmu, maka selanjutnya yang harus kita ketahui adalah: Apa alasan yang membuat
mereka sangat semangat dalam mempelajari ilmu?
Jawabannya adalah : karena Allah melarang para hambaNya mengikuti dan
melakukan sesuatu tanpa ilmu.Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman;
وَلاَ
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Surat Al-Isra: ayat 36)
Kesimpulan, bahwa Ilmu adalah sebuah kebutuhan dasar manusia hidup,
tanpanya tak ada artinya hidup. Berkata Al Ghozali : “(Di hadapan para
muridnya) Fath al-Mushili rahimahullah berkata, : ‘Bukankah akan mati jika ada
orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?’ Mereka pun menjawab, “Iya benar, akan mati.’
‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari,
maka hati akan mati.” ( Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn Beirut, Dar al-Fikr, juz I,
halaman 8)
(by: eiruelamirudin@gmail.com).
---------


Tidak ada komentar:
Posting Komentar