Selasa, 26 Mei 2020

NEW NORMAL = OLD DISEASE + NEW CAMPAIGN


NEW NORMAL = OLD DISEASE + NEW CAMPAIGN
Oleh : Ustadz Yuda P





Mengapa penguasa bersikeras segerakan New Normal? Padahal kurva belum melandai? Padahal kebijakan yang sekarang saja amburadul?

Karena New Normal sejatinya adalah tuntutan para kapitalis dan pemilik modal tidak mau terus merugi. Para pemilik mall, para pemilik jaringan hotel besar, para pemilik maskapai penerbangan, para pemilik raksasa migas, mereka yang selama ini "sakratul maut" akibat pandemi berusaha untuk bangkit kembali.

Tentu saja mereka tinggal menekan para penguasa beserta kroni mereka. Toh mereka dulu jadi penguasa lewat pemilu yang kemarin di-support penuh oleh para kapitalis tersebut.

Lalu bagaimana jika nanti rakyat kecil banyak yang sakit terpapar pandemi? Tenang, penguasa telah menaikkan BPJS jadi negara tidak akan rugi. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri, seperti dulu kita dibiarkan berjuang sendiri, lockdown tanpa bantuan negara seperti amanat UU Karantina.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Jangan mau ikut seruan New Normal. Jangan belanja ke mall, jangan bepergian, jangan beri kesempatan para raksasa kapitalis itu bangkit lagi. Biarkan mereka meneruskan "sakratul maut" mereka sampai tuntas.

Tetap belanja ke tetangga Anda, tetap beli dagangan teman Anda. Matikan TV, abaikan iklan. Usahakan beli barang dan jasa secara langsung. Hidupkan peer-to-peer economy.

Jika Anda kena PHK, atau terancam PHK, segera bangkit dan ambil bagian dalam peer-to-peer economy tadi. Tawarkan produk atau jasa secara langsung kepada siapa saja. Saya melihat sendiri, tetangga, saudara dan kerabat yang bisa survive dengan cara seperti ini. Depan rumah saya misalnya, berhasil membuat Pizza yang nyaris seenak Pizza Hut, dengan harga seper limanya. Jangan cengeng dan hidup tergantung orang terus. Saatnya mandiri.

Salah satu hikmah pandemi ini adalah hancurnya bisnis-bisnis leisure-lux bermodal dan berbujet iklan besar, serta bertempat di mall besar. Serta bangkitnya banyak bisnis kecil dengan sistem direct selling. Hancurnya para pemakai riba, serta suburnya jual beli (al-bai). Hancurnya pasar modal dan bursa, serta mulai digunakannya crowd funding ala syariah yaitu syirkah. Tugas Anda hanyalah membiarkan dan memberikan kesempatan kepada pandemi untuk menuntaskan semua tugasnya tadi. Jangan terpancing propaganda New Normal.

Jika New Normal ini berhasil, maka kapal-kapal tanker minyak raksasa yang kemarin kebingungan terombang-ambing di lautan karena semua kilang minyak penuh, mereka akan kembali mengucurkan dengan masif dan deras minyak-minyak mereka. Harga minyak akan kembali naik. Para kapitalis akan kembali berpesta saling toast wine mahal. Dan bumi akan kembali tercemar polusi.

Satu lagi, jangan paksaan anak masuk sekolah jika Anda belum yakin. Mengingat anak-anak yang terdampak pandemi cukup banyak. Tetap pertahankan kelas online, atau lakukan home school sendiri. Sudah saatnya anak-anak tidak lagi dicekoki dengan beban kurikulum dan Anda mulai mendesain sendiri kurikulum terbaik buat mereka.

Intinya, biarkan pandemi ini menyelesaikan tugasnya untuk menghabisi peradaban kapitalis sekuler yang sejak awal memang sudah rusak ini. Dan pada saat yang sama kita belajar cara hidup yang baru, yang lebih sesuai dengan Islam, sampai terwujudnya bisyarah Baginda Rasulullah saw; tsumma takunu khilafatan 'ala minhajin nubuwah...

Sabtu, 16 Mei 2020

BENARKAH VIRUS CORONA TIDAK BERBAHAYA ???


BENARKAH VIRUS CORONA TIDAK BERBAHAYA ???




Majalah Ilmu Pengetahuan Jerman (Blauer Bote Magazin) melawan propaganda, dengan pernyataan pakar-pakar terkemuka dunia.

Profesor Dr. Klaus Püschel, Kepala Forensik Medis di Hamburg-Jerman, bersama sejumlah tim-nya telah meneliti para korban corona yang meninggal.

Ia menuntut Kanzelir Angela Merkel utk mulai mencabut lockdown. Kini saat yang tepat. Krisis Corona harus mendorong pengobatan yang intensif.

Menurut temuannya, Covid-19 adalah virus yang tidak terlalu berbahaya. Jerman harus belajar hidup dengan virus itu tanpa karantina.

Kematian yang diperiksanya, semua memiliki penyakit serius sebelumnya, sehingga kendati berat utk dikatakan, mereka semua tokh akan mati pada tahun ini.

Profesor Dr. Dr. Martin Haditsch, spesialis mikrobiologi, virologi dan epidemiologi infeksi, Austria, menyesalkan banyaknya hambatan utk melaksanakan penelitian post mortem, dengan alasan protokol Covid-19 utk perlindungan infeksi.

Akibatnya tidak bisa diketahui penyebab kematian sebenarnya dari mereka yang dites positif.

Otopsi minimal atau terbatas hanya menemukan apa yang dicari, tetapi temuan penting lainnya tidak terdeteksi. Seandainya dapat diteliti dgn seksama, kematian akibat corona sebenarnya jauh lebih sedikit, daripada angka2 yang dilaporkan.

Dr. Bodo Schiffmann, dokter ahli, menegaskan, ketakutan terhadap Covid-19 didasarkan pada perkiraan angka kematian yang tinggi, seperti dikatakan WHO dan banyak organisasi lain, meliputi 2-4% dari mereka yang tertular.

Ini salah besar. Penularan virus sulit sekali dicegah, shg jumlah infeksi sebenarnya jauh lebih besar daripada yang resmi dilaporkan.

Maka tingkat kematian sebenarnya jauh lebih rendah daripada angka-angka menakutkan itu.

Profesor Dr. Eran Bendavid dan Profesor Dr. Jay Bhattacharya, para profesor medis di Stanford University, AS, mengatakan, secara pribadi, saya menyarankan utk lebih sedikit menghabiskan waktu menonton berita televisi yg cenderung sensasional.

Ini tidak sehat. Covid ini tidak beda dari epidemi flu musim dingin yg buruk.

Data tahun lalu ada 8000 kematian pada kelompok beresiko, antara lain 65% lebih adalah pengidap sakit jantung.

Dan kematian Covid sekarang ini tidak melebihi angka itu. Jadi kita saat ini dilanda epidemi media!

Profesor Dr. John Oxford dari Universitas Queen Mary London, Inggris, ahli virologi dan influenza terkemuka di dunia, menegaskan, bhw yang dibutuhkan saat ini adalah mengendalikan kecamasan.

Media telah menyebabkan kepanikan yang tidak perlu. Media terus-menerus memberitakan peningkatan jumlah kumulatif kasus dan kematian, dan tak hentinya menyoroti para selebritas yang terinfeksi covid.

Padahal, sejak September tahun lalu virus lain telah membuat 36 juta orang Amerika sakit flu dan membunuh 22 ribu diantaranya, namun tidak ada kehebohan sebab tidak diberitakan.

Profesor Dr. Michael Levitt, Profesor Biokimia, Universitas Stanford, AS, pemenang hadiah Nobel Kimia 2013, menjelaskan, jika tiga kali lipat pengetesan dilakukan maka hasilnya yang terinfeksi juga lebih dari tiga lipat.

Hal ini membiaskan perhitungan angka kematian akibat corona. Angka yang menunjukkan jumlah terinfeksi itu dan kenaikannya, selalu dijadikan dasar para pemerintahan menentukan kebijakan. Padahal itu bukan angka aktual.

Profesor Dr. Gerd Bosbach, profesor statistik, matematika dan penelitian ekonomi dan sosial empiris serta penulis buku terkenal "Dusta Dengan Angka":
Kami sudah tahu coronavirus dari masa lalu.

Data faktual menunjukkan bahwa Covid-19 ini kurang berbahaya daripada influenza, yang pernah menjadi wabah serius pada tahun 2017 dengan 27.000 kematian di Jerman.

Kita tidak boleh secara berlebihan hanya peduli pada Corona saja, yang justru memarakkan bencana wabah penyakit lainnya.

Profesor Dr. Jochen A. Werner, Direktur Medis dan CEO University Medical Center Essen, mengatakan, bahwa kemungkinan penerapan herd-immunity lebih cocok melawan virus corona ini.

Data di Korea Selatan menunjukkan 99% kasus aktif hanya menunjukkan gejala ringan dan tidak memerlukan perawatan medis.

Kematian krn Covid-19 hanya ditemukan pada orang2 tua atau mrk yg punya penyakit kronis, seperti diabetis dan jantung.

Padahal virus-flu tidak cuma menyerang orang2 tua dan org sakit kronis, tetapi juga membunuh anak-anak.

Dr. David Katz, Universitas Yale, AS, direktur pendiri Pusat Penelitian Pencegahan Universitas Yale:
Tidak cukup bukti ilmiah yang memastikan tentang besarnya risiko kematian akibat Covid-19.

Kematian yang dilaporkan, adalah 3,4% dari laporan resmi WHO, terkesan mengerikan, namun tidak berarti.

Pasien yang telah dites SARS-CoV-2 secara tidak proporsional sangat besar yang sudah mengidap penyakit parah atau kondisi kesahatan yang buruk lainnya.

Karena sebagian besar sistem kesehatan global memiliki kapasitas pengujian yang terbatas, kesimpulan yang bias segera mencuat tanpa kendali.

Padahal tingkat kematian secara keseluruhan yang 0,05% itu lebih rendah dari flu musiman yang sudah ada sebelumnya.

Oleh sebab itu, lockdown di banyak bagian dunia berpotensi implikasi sosial dan ekonomi yang sangat besar dan sangat tidak rasional. ”

Profesor Dr. John Ioannidis, Universitas Stanford, AS:
Corona ini adalah wabah kepanikan massal.

Satu musim flu rata-rata membunuh sekitar 500.000 orang, Namun tidak ada tindakan khusus yang diambil selama pandemi influenza.

Profesor Dr. Peter C. Gotzsche, peneliti medis dan profesor di University of Copenhagen:
Menurut saya, virusnya hampir sama bahayanya dengan influenza.

Kami melihat ini dalam angka kematian, yaitu sekitar 0,3 hingga 0,7 persen. Itu yang kita lihat pula pada influenza.

Kasusnya mirip. Ini adalah penyakit mirip dengan influenza biasa yang juga menular. Campak bahkan jauh lebih berbahaya.

Profesor Dr. Stefan Hockertz, ahli imunologi dan toksikologi dan Profesor Dr. Andrea Edenharter, profesor hukum:
Kebijakan pembatasan berlebihan saat ini tidak berdasar secara legalitas hukum.

Jurnalisme kini seperti burung beo tanpa kritik dan tidak memiliki logika. Jurnalis bersama politisi kini saling memainkan puting-beliung yang memaksakan kondisi saat ini, shg pihak ketiga yg beda tidak bisa lagi berembuk. Ini kematian dari keterbukaan, yang amat sulit dihidupkan kembali.

Profesor Dr. Michael Meyen, Profesor Ilmu Komunikasi di Ludwig Maximilian University of Munich:
Pemberitaan Corona merupakan pelanggaran konstitusional yang menyebabkan keresahan.

Prof. Schulte-Markwort: Ketakutan korona terselubung tidak dibenarkan oleh angka-angka aktual.


http://blauerbote.com/2020/04/15/prof-pueschel-corona-ist-relativ-harmlose-viruserkrankung-quarantaene-beenden/

Senin, 04 Mei 2020

TERAPI MATA BLUR KARENA TERLALU LAMA MEMANDANG SCREEN



TERAPI MATA BLUR KARENA 
TERLALU LAMA MEMANDANG SCREEN






Tulisan ini diambil dari laporan CNN tentang pemeliharaan mata selama "stay at home".

Masa PSBB, "Stay at Home", bisa menimbulkan "Kerusakan Mata".


Karena lama tinggal di rumah dan tidak ada kegiatan rutin, kantor, sekolah dan kegiatan2 lainnya, maka kita akan sering lihat Smart Phone, atau komputer, laptop atau PC.. Menurut study, rata2 mata kita menatap screen sekitar 13 jam per hari..


Yang langsung terasa sesudah lama menatap HP atau laptop adalah mata kita terasa "blurr", kabur, kadang2  melihat dua garis, dua bayangan berdekatan. Mata terasa tidak tajam dan fokus.. kalau kita istirahat, cukup kama, baru mata terasa normal kembali.. Akademi Ahli Mata Amerika menamakan gejala mata ini "digital vision syndrom".


Rekomendasi yang disarankan dokter2 ahli mata Moorfield Eye Hospital Amerika adalah teknik 20-20-20. Tiap 20 menit istirahatkan mata, lihat jauh kedepan minimal sejauh 20 feet (6M), selama 20 detik.


Bagi orang berusia "upper 30", dimana otot lensa mata sudah mulai lemah, lama konsentrasi lihat jarak dekat membuat otot lensa matanya jadi "capek", lelah, usahakan lihat screen dengan memakai kacamata baca..


Kadang2 mata terasa perih, tandanya mata menjadi kering. Sering2 mengedipkan mata. Dengan lama menatap HP, atau screen kita lupa mengedipkan mata. Maka sering2 mengedipkan mata, dan tutup mata agak lama supaya mata basah kembali.. Kalau air mata sudah berkurang, perlu pakai tambahan obat tetes (air) mata..


Disamping itu kelamaan lihat HP dan Screen komputer, ada efek "blue light", atau cayaha "siang hari". Cahaya ini mempengaruhi "jam tubuh" (body clock), menganggap hari masih siang, maka kalau malam, kita jadi susah tidur. 

Sebaiknya waktu malam HP atau screen pakai "night mode", dasar screen jadi gelap, tulisannya putih..

Khusus anak2, kalau hari baik dan cerah, supaya sering2 bermain di luar, lihat alam bebas.. Supaya mata mereka juga terbiasa lihat alam jauh dengan kombinasi warna alam segar.


Semoga bermanfaat,

Salam.

Minggu, 03 Mei 2020

Ibnu Sina Penemu Protocol virus



Ibnu Sina Penemu Protocol virus
Alarbaniyat = karantina 


Baru-baru ini viral di medsos film berbahasa Soviet berdurasi 4 menit, menceritakan metode Ibnu Sina dalam menghadapi pandemi. Film Avicenna (Ibnu Sina) yang diproduksi oleh Rusia di masa Uni Soviet pada tahun 1956, disutradarai Gregory Cooperschmitt, telah menghebokan Facebook dan WhatsApp, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara, terutama di Timur Tengah, sebagaimana di lansir dalam berbagai surat kabar on line antara lain el-Syuruuq, el-Syarq, el-Quds el-Araby, el-Bilad, dan el Qabas.

Dalam film itu dijelaskan tentang kejeniusan Ibnu Sina, dan pengetahuannya tentang seluk beluk dunia medis, terutama karena informasi dan diagnosisinya yang sangat akurat tentang Wabah Hitam (Black Death) yang waktu itu menewaskan jutaan orang. Apa yang disampaikannya ini sangat mirip dengan gejala penularan corona serta metode untuk mengatasinya.

Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbdillah ibn Sina dikenal dengan Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). 

Karyanya yang sangat monumental adalah al-Syifa (Penyembuhan, terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan) dan al-Qānūn fī al-Ṭibb (Canon of Medicine, Aturan Pengobatan) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Orang Barat menyebut Ibnu Sina dengan panggilan the Prince of Doctors (Pangeran para dokter) dan the Father of Modern Medicine in the Middle Ages (Bapak Kedokteran Moderen di Abad Pertengahan).

Dalam salah satu adegan film itu, Ibnu Sina dan murid-muridnya pergi menemui seorang ulama, Abu al-Rayhan al-Bīrūni. Ini adalah pertemuan kali yang pertama di antara mereka. Al-Bīrūni menyambut Ibnu Sina dengan dua tangan terbuka untuk memeluknya, tetapi Ibnu Sina mundur dan menolak menyentuhnya, ia minta disediakan pakaian baru untuknya dan orang-orang yang menyertainya, serta minta mangkuk dengan larutan cuka untuk mencuci tangan dan wajah mereka. Apa yang disampaikan Ibnu Sina ini merupakan protokol kesehatan yang tidak jauh berbeda dengan tata-cara mencegah infeksi virus Corona pada masa sekarang ini, di samping penggunaan sabun atau etil alkohol (alkohol murni) untuk membunuh virus.

Al-Bīrūni terkejut dengan permintaan Ibnu Sina tersebut seraya bertanya kepadanya: “ Ini tradisi bangsa mana ?  Ibn Sina menjawab: “Tradisi ini harus berlaku di negara-negara tempat “Wabah Hitam” (Black Death ) bersembunyi.”  Ibnu Sina menyadari bahwa sulit bagi publik untuk berusan dengan virus yang tidak mereka lihat. Ia berbicara hal tersebut ketika mikroskop dan cara melihat virus tidak dikenal seperti sekarang ini. Namun demikian, Ibnu Sina telah mengidentifikasi virus ke murid-muridnya dengan sangat tepat, seolah-olah ia memiliki laboratorium ilmiah modern. 

Ia mengetahui bahwa semua penyakit menular disebabkan oleh kāināt daqīqah (mikroorganisme) yang tidak dapat dilihat, dan bisa menempel pada apa saja, seperti pakaian, wajah, tangan, dan rambut. Dalam adegan lainnya, Ibn Sina menjelaskan kepada sahabatnya bahwa tidak usah takut menghadapi wabah ini, tetapi hadapilah dengan suka cita dan kegembiraan, karena wabah itu tidak takut kepada pengecut dan penakut.  

Berbagai inovasinya, sebetulnya, selaras dengan ilmu pengetahuan modern, antara lain, bahwa pasien dalam kondisi sikap mental yang optimis, lebih cepat merespon pengobatan dari pada pasien yang takut karena panik. Rasa takut, secara signifikan dapat melemahkan imunitas atau kekebalan tubuh. 

Dia menjelaskan pula, bahwa wabah itu disebabkan oleh partikel yang tidak terlihat oleh mata telanjang, menembus udara, rambut, pakaian, dan sentuhan, serta ditularkan melalui gesekan antar manusia.Sehubungan dengan hal di atas, Ibnu Sina menyampaikan kata mutiaranya:اَلوَهْمُ نِصْفُ الدَاءِ، وَالإطْمِئْنَانُ نِصْفُ الدَوَاءِ، وَالصَبْرُ بِدَايَةُ الشِفَاءِal-wahm nişfud-dā-i, wal-ițmi’nān nişfud-dawā-i, wal-şabr bidāyah al-syifā. (Delusi (serba kawatir) adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh pengobatan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan).    

Di samping tidak boleh takut kepada penyakit, dalam film itu Ibnu Sina juga menerangkan cara pencegahan wabah lainnya, yaitu yang bersangkutan harus menjauhi kerumunan manusia, uang harus disterilkan dengan air cuka, masjid dan pasar harus ditutup sementara, sehingga setiap orang shalat di rumahnya masing-masing, agar rantai penyebaran infeksi tidak berlanjut. 

Di samping itu, dokter dan paramedis yang merawat pasien, agar mensterilkan hidungnya dengan kapas yang direndam dalam cuka dan mengunyah auraq al-syaikh (semacam daun-daunan), yang semuanya ini baru dikenali oleh orang-orang setelah wabah pandemi Corona menyebar ke berbagai negeri.

Pada masa Corona sekarang ini, yakni hampir seribu tahun setelah Ibnu Sina wafat, kita baru menyadari bahwa kosep dan inovasi Ibnu Sina sudah digunakan dalam pengendalian penyebaran Corona di berbagai negara di dunia. 

Dahulu, Ibn Sina pernah curiga ada beberapa penyakit ditularkan oleh mikroba, maka untuk mencegah infeksinya di antara sesama manusia, ia menemukan metode dengan mengisolasi yang bersangkutan selama 40 hari. Metode ini dia sebut al-arba’iniyyat (40 harian) lalu dikenal dalam bahasa Itali dengan quarantine lalu diserap dalam bahasa Indonesia menjadi karantina. Karena kemajuan ilmu kedokteran, untuk masa sekarang ini karantina lazimnya dilakukan selama 14 hari.

Dari film yang berdurasi relatif pendek itu, kita mendapat informasi yang sangat berharga. Bahwa ilmu kedokteran yang dikembangkan ahli medis muslim di abad pertengahan pernah mempengaruhi dunia kedokteran terutama di daratan Eropa. Inovasi-inovasi Ibnu Sina dalam bidang medis terutama dalam usahanya membatasi penyebaran wabah, sangat relevan untuk digunakan pada pembatasan penyebaran Corona masa sekarang ini. 

Apa yang diinisiasi oleh Pemerintah dan WHO tentang physical/social distancing, menggunakan masker, menghindari kerumunan orang, cuci tangan, dan karantina mandiri tidak usah diperdebatkan, tetapi untuk segera dilaksanakan, sehingga bangsa Indonesia ini bisa segera mengendalikan korban yang berjatuhan, dan dapat mengakhiri covid-19 dengan sesegera mungkin. Amin.

🌹 *Wallahu a'lam* 🌹



Oleh: Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi, Lc., M.Ag, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



https://www.senayanpost.com/konsep-ibnu-sina-dalam-menghadapi-pandemi/

Dr. Andani Eka Putra dan Tes Covid 19



Dr. Andani Eka Putra dan Tes Covid 19



Oleh : Dahlan Iskan

Hari ini cukup mendebarkan bagi Sumbar --provinsi pertama yang melakukan pool test Covid-19. 

Kalau hasilnya negatif, lima kabupaten di sana akan dibebaskan dari PSBB. Berarti sekolah boleh dibuka lagi. Toko dan perdagangan boleh jalan lagi.

Dan di bulan Ramadan ini salat tarawih dan Jumatan bisa dilaksanakan berjamaah di masjid lagi.

Sumbar memang nomor satu di Sumatera --terbanyak terkena Covid-19. Terbanyak itu sebenarnya tidak banyak: 196. Tapi itu bisa jadi ancaman wabah yang serius.

Hanya saja dari 196 itu tidak ada yang dari lima kabupaten tadi: Solok Selatan, Lima Puluh Kota, Sijunjung, Sawahlunto, dan Kota Solok.

Tapi, selama ini, rakyat di lima kabupaten itu ikut terkena PSBB. Itulah memang jahatnya Covid-19: mayoritas yang negatif ikut bernasib sama dengan yang minoritas positif --hanya beda pengobatan. 

Covid-19 adalah tirani minoritas atas mayoritas. Yang membuat minoritas yang vokal mengalahkan mayoritas yang diam.

Termasuk di Sumbar. Yang lagi ”berontak” atas wabah ini. Sampai berani melakukan pool test.

Di Sumbar memang ada dokter yang sangat dipercaya gubernurnya. Namanya: Andani Eka Putra. Ia adalah Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas, Padang.

Dokter Andani-lah yang mengusulkan ide itu ke Gubernur Sumbar Prof Dr. Irwan Prayitno. Untuk melakukan pool test di 7 kabupaten itu.

”Saat itu Pak Gubernur langsung menyetujui. Kami pun melaksanakan,” ujar Andani saat saya hubungi tadi malam. 

Andani adalah satu pembicara dalam Zoom webinar Sabtu siang lalu. Yang diselenggarakan Komunitas Kawal Covid Sumut dan Ikatan Alumnus ITB Sumut.

Pembicara di webinar itu tiga dokter ahli dari Universitas Sumatera Utara (Dr.dr. M. Ichwan MSc, Dr. dr. Inke Nadia Lubis dan Dr. dr. Istri Isniyati Fujiati) dan Hafidz Ary Nurhadi dari ITB, pengusul pool test itu.

Pool test yang dilakukan di Sumbar ini prinsipnya sama dengan ide yang disampaikan insinyur ITB Hafidz (Baca DI’s Way: Pool-test Hafidz).

Hanya saja dr Andani melakukan dengan teori dan penemuannya sendiri. Yakni hanya mau melakukan pool test di wilayah yang belum ditemukan penderita Covid-19.

Itu pun tidak semua penduduk dites. Hanya penduduk yang potensial tertular di lima kabupaten itu yang dites.

Mereka adalah orang-orang yang punya penyakit tertentu di lima kabupaten itu. Misalnya yang menderita diabetes, darah tinggi, asma, dan seterusnya. Itu pun tidak semua. Yang benar-benar sangat potensial tertular saja.

Dengan demikian jumlah orang yang dites tidak terlalu banyak. Yang kalau terlalu banyak biayanya sangat besar.

Yang menarik adalah ide Andani berikut ini. Yakni cara membuat pool itu.

Satu pool terdiri dari 60 sampai 100 orang. Tergantung Kabupatennya. Mukus (cairan dari pangkal hidung/dekat tenggorokan) mereka dimasukkan tabung masing-masing. Yang di dalamnya sudah ada cairan kimianya. Sebut saja tabung ini sebagai tabung kelompok (Tabung K).

60 atau 100 tabung kolompok itu dibagi menjadi beberapa kelompok lebih kecil. Sebut saja menjadi sub kelompok.

Tiap sub kelompok terdiri dari lima tabung. Sebut saja tabung Sub Kelompok (Tabung SK).

Cairan yang sudah tercampur mukus di 5 tabung SK tadi dikurangi dulu masing-masing sebanyak 20uml. Untuk dijadikan satu --dimasukkan ke dalam satu tabung. Sebut saja tabung subnya sub-kelompok (Tabung SSK). Berarti di satu tabung SSK ini berisi 100 uml mukus dari lima tabung SK. 

Yang dites di laboratorium adalah mukus yang di satu tabung SSK tadi.

Kalau satu tabung ini hasilnya negatif, maka 5 tabung SK dan 64 tabung K tidak perlu lagi dites. Berarti 60 atau 100 orang yang ikut pool test tersebut negatif semua.

Murah sekali. Dan lebih akurat. Beda dengan yang diusulkan Hafidz --satu pool mukus dimasukkan dalam satu tabung penguji.

Tujuh kabupaten di Sumbar sudah menjalani itu. Yang hasilnya akan diketahui siang ini. ”Besok siang saya sudah bisa lapor bapak gubernur hasilnya bagaimana,” ujar dr Andani.

Bagaimana kalau hasil pemeriksaan tabung SSK nanti positif?

Barulah dilakukan pemeriksaan terhadap tabung SK. Untuk mengetahui yang positif tadi dari sub kelompok yang mana. 

Kalau sudah diketahui sub kelompok yang mana barulah tiap tabung di sub kelompok itu dites. Dari sini akan diketahui siapa yang positif tersebut. Untuk dilakukan isolasi. 

Alenia berikut ini adalah bagian yang sensitif. Yang belum tentu banyak orang yang memahami.

Yakni apa yang sebenarnya harus dilakukan saat terjadi pandemi. Doktrin dalam pandemi, kata Andani, adalah memfokuskan semua usaha untuk memutus rantai penyebaran. 

”Perang lawan pandemi itu di lapangan. Bukan di rumah sakit,” ujar dokter Andani.

Itu perlu ditegaskan agar jangan sampai upaya terbesar adalah menangani yang sudah terkena Covid-19.

Protokol Covid-19 haruslah physical distancing, pakai masker, dan cuci tangan itu. Termasuk di dalamnya memisahkan penduduk yang sehat dari yang terkena wabah.

Menurut Andani, kalau saja hasil pool test tersebut negatif, maka orang dari luar lima kabupaten tersebut tidak boleh masuk ke dalamnya. Yang di dalam lima kabupaten tidak boleh keluar. Mereka boleh hidup normal sebatas di dalam lima kabupaten itu --termasuk boleh sekolah dan tarawih.

Andani adalah dokter ahli penyakit tropis. Ia lulus sebagai dokter di Universitas Andalas. Lalu mengabdi di rumah sakit di Padang. Setelah itu Andani ke Universitas Gajah Mada Jogjakarta untuk mendapatkan spesialisasinya. 

Kini Andani menjadi Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas, Padang. Praktik dokternya sangat laris. Andani bisa praktik sampai pukul 2 malam. Andani sangat disukai orang yang lagi sakit di sana --karena boleh tidak membayar.

Jiwa aktivisnya tidak larut dalam komersialisme. Sebagai aktivis mahasiswa dan tokoh HMI, Andani ingin terus berjuang lewat profesi dokternya.

Ia ingin sekali menghasilkan produk kesehatan untuk Indonesia. Ia belum mau banyak bercerita. Tapi sebenarnya Andani lagi melakukan riset untuk menemukan cara mendeteksi virus yang menyebabkan kanker mulut rahim. Ia juga sedang riset untuk membuat cairan yang akan dipakai melakukan tes di lab. Misalnya tes Covid-19 seperti sekarang ini. 

Tahun lalu Andani akan dinobatkan sebagai dosen teladan di Universitas Andalas. Andani menolak. ”Saya harus menghasilkan penemuan dulu,” katanya.

Sewaktu wahasiswa Andani juga aktif di dunia pers kampus. Karena itu cita-cita awalnya jadi wartawan. Lalu ganti cita-cita ingin ke ITB. Ayahnyalah --seorang polisi-- yang memintanya jadi dokter. 

Ia tidak ingin jadi dokter biasa.

Dokter Andani (kiri) dan Gubernur Irwan Prayitno

Untuk menjadi penemu di bidang kedokteran itulah Andani melengkapi lab universitas dengan alat-alat terbaru. Sering ia harus membeli alat sendiri --dari uang pribadinya. Termasuk alat yang harganya di atas Rp 100 juta. 

Kalau saja ia punya uang banyak bidang keilmuan kedokteran di Sumbar akan sangat maju. 

Dengan pool test tersebut, Sumbar lagi melakukan terobosan penanganan Covid-19.

Di Sumbar mereka yang mayoritas tidak ingin dikalahkan oleh minoritas tadi. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/921/tirani-minoritas

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...