Buletin El Fata
Edisi 4 Jum’at 31 Mei 2019 /26 Romadhon 1440 H
Edisi 4 Jum’at 31 Mei 2019 /26 Romadhon 1440 H
KEUTAMAAN MAJELIS ILMU
Menuntut ilmu merupakan kewajiban semua umat manusia
baik laki-laki maupun perempuan. Dengan menuntut ilmu pengetahuan kita akan
bertambah, dan InsyaAllah ilmu tersebut akan bermanfaat untuk kita. Dalam Islam
pun kita dianjurkan untk senantiasa menuntut ilmu, karena sebaik-baiknya
seseorang adalah yang senang menuntut
ilmu. Berikut ini ada beberapa keutamaan menuntut ilmu menurut pandangan Islam,
semoga bermanfaat ya sahabat.
1) Merupakan jihad fi sabilillah
Orang yang berangkat ke
masjid untuk menuntut ilmu dengan dating ke majelis ilmu, dianggap sebagai
jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ
خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان
كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
“Barangsiapa yang
memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk
mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang
memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang
melihat sesuatu yang bukan miliknya”
(HR. Ibnu Hibban no. 87, hadits hasan dalam Shahih Al Mawarid, 69).
2) Dimudahkan jalannya menuju surga
Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
مَن
سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh
jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641,hadits
oshih).
3) Mendapatkan ketenangan, rahmat
dan dimuliakan para Malaikat
Orang yang mempelajari Al
Qur’an di majelis disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat
ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وَمَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ
فِيمَنْ عِنْدَه
“Tidaklah suatu kaum
berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca
Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka
sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para
malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang
dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim
no. 2699).
4) Dicatat sebagai orang yang
shalat hingga kembali ke rumah
Jika seorang berangkat ke
masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis
ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus
dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah. Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا
تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا
يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ
“Jika seseorang berwudhu
di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang
shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian
beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, hadits
sohih).
5) Dicatat amalannya di
‘illiyyin.
Jika seorang berangkat ke
masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat terdapat pengajian
(majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (misalnya pengajian antara
maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di
masjid, di ‘illiyyin. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ
بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
“Seorang
yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat
berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan
dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin”
(HR. Abu Daud no. 1288,hadits hasan).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar