Buletin El Fata
Edisi 5 Jum’at 14 Juni 2019 / 12 Syawal 1440 H
KEUTAMAAN MAJELIS DZIKIR
Majelis
dzikir adalah suatu wadah pendidikan non formal yang bertujuan untuk
meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Majelis dzikir sejatinya
bisa dilaksanakan dimana saja, baik di rumah, gedung, atau masjid, juga dapat
dihadiri siapapun tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ataupun jabatan. Inilah
kenapa majelis dzikir sangat dekat dan lekat dengan masyarakat baru. Majelis dzikir
sendiri mempunyai banyak manfaatnya, diantaranya sebagai berikut ini :
1. Majelis Pengampunan dosa
Diriwayatkan dari Nabi Saw
sesugguhnya beliau bersabda :
عَنْ
سُهَيْلِ بن حَنْظَلَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:"مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
فِيهِ، فَيَقُومُونَ حَتَّى يُقَالَ لَهُمْ قُومُوا، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ، وبُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ"
Dari Suhail bin Handzalah,
Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah suatu kaum duduk untuk barzikir kepada
Allah kemudian mereka berdiri, kecuali ada yang memanggil mereka: “Berdirilah
kalian, maka sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan mengganti
keburukan-keburukan kalian dengan kebaikan.” (HR. Thabrani).
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Dari Anas bin Malik
Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,:
”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para
sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau
menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR Tirmidzi, no.
3510 dan lainnya).
2. Majelis yang dihadiri malaikat
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki
malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir.
Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah,
mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak:
‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang
berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia. Kemudian Allah Azza wa
Jalla bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka,
’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ’Mereka
mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu
(mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah),
mereka mengagungkan-Mu’. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka
menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka
melihatKu?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah
mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih
mensucikan kepadaMu’. Allah berkata,’Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?’
Mereka menjawab, ’Mereka minta surga kepadaMu’. Allah bertanya, ’Apakah mereka
melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak
melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Seandainya
mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak
meminta serta lebih besar keinginan’.” Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka
minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab,”Mereka minta perlindungan dari
neraka kepadaMu.” Allah bertanya,”Apakah mereka melihatnya?” Mereka
menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah
berkata, ”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya
mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata,
”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat
diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak
termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir). Sesungguhnya dia datang hanyalah
karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk.
Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” [HR Bukhari,
no. 6408, dan ini lafahznya; Muslim, no. 2689].
3. Majelis yang dibanggakan Allah
Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata: Mu’awiyah keluar
menemui satu halaqah (kelompok orang yang duduk berkeliling) di dalam masjid,
lalu dia bertanya,”Apa yang menyebabkan engkau duduk?” Mereka menjawab,”Kami
duduk berdzikir kepada Allah.”
Dia
bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali
hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah.
Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Dia berkata,”Sesungguhnya aku tidaklah meminta engkau
bersumpah karena sangkaan (bohong, Pent.) kepadamu. Tidaklah ada seorangpun
yang memiliki kedudukan seperti aku dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lebih sedikit haditsnya dariku. Dan sesungguhnya, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui satu halaqah dari para
sahabat beliau. Kemudian beliau bertanya,’Apa yang menyebabkan engkau duduk?’.”
Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Beliau bertanya
lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?”
Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali
hanya itu?” Beliau bersabda,”Sesungguhnya, aku tidaklah meminta engkau
bersumpah karena sangkaan (bohong,) kepadamu. Akan tetapi Jibril telah
mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
membanggakanmu kepada para malaikat.” [HR Muslim, no. 2701].
4. Majelis yang membawa
ketenangan
Disebutkan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Ada
seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda
yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar
dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang
pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang
karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar