Buletin El Fata
Edisi 14 Jum’at 6 September 2019 / 6 Muharom 1441 H
PUASA ASYURO
(10 MUHARROM)
Shaum/puasa Asyura adalah shaum yang dilaksanakan tiap tanggal
10 di bulan Muharram dalam hitungan
tahun Hijriyah. Kenapa ada shaum yang dilaksanakan di tanggal tersebut? Begini
sejarahnya.
Pada masa jahiliyah, orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan
shaum di tanggal 10 tiap bulan Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun juga melaksanakan shaum itu saat masih berada di Mekah. Hal ini
pernah diceritakan oleh Istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau
berkata,
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ،
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ
الْمَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ
يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan shaum
’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan shaum
tersebut. Saat tiba di Madinah, beliau melakukan shaum tersebut dan
memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan
diwajibkan, beliau meninggalkan shaum ’Asyura. Lalu beliau bersabda,
‘Barangsiapa yang mau, silakan shaum. Barangsiapa yang mau, silakan
meninggalkannya (tidak shaum).’” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)
Shaum Asyura yang diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam saat di Mekah, hanya untuk beliau sendiri. Beliau tidak pernah
sekalipun memerintahkan kepada para sahabatnya untuk mengamalkan shaum
tersebut.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah,
saat di Madinah beliau melihat orang yahudi juga melakukan shaum itu. Bahkan, mereka
juga menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai hari raya istimewa. Orang Yahudi
sangat memuliakan hari itu.
Mereka berargumen, bahwa hari 10 Muharram adalah hari di mana
Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Pada hari itu
pula, Allah ‘Azza wa Jalla menenggelamkan Fir’aun beserta bala
tentaranya.
Kisah ini tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-قَدِمَ الْمَدِينَةَ
فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- «مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ». فَقَالُوا
هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ
فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى
مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ-صلى الله عليه وسلم-وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, “Hari yang kalian
bepuasa ini adalah hari apa?”
Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini adalah hari yang
sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya.
Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini
dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,
“Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”
Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan
kaum muslimin untuk shaum.” (HR. Muslim no. 1130)
Bukan
Mengikuti Adat Jahiliyah
Terkait dengan shaum Asyura yang diamalkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau mengamalkan shaum tersebut berdasarkan oleh
wahyu, bukan mengikuti adat orang-orang jahiliyah sebelumnya.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, : “Namun
beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang
sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah
seorang dari mereka (orang Yahudi).” (Al-Minhaj Syarh Muslim, 8/11).
Fadilah puasa as syuro
Berpuasa ‘Asyura tanggal 10 Muharram akan menghapus
dosa satu tahun yang sudah terlewat :
وَصِيَامُ
يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي
قَبْلَهُ
“Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada
Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.” (HR Muslim no. 1162/2746).
Selain berpuasa di hari ‘Asyura disukai untuk
berpuasa pada tanggal 9 Muharram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
berkeinginan, jika seandainya tahun depan beliau hidup, beliau akan berpuasa
pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tetapi ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam wafat pada tahun tersebut.
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ –
رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ
شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ
الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu
‘anhuma bahwasanya dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk
berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini
adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan
berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang,
ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”(HR Muslim
no. 1134/2666).
Banyak ulama mengatakan bahwa disunnahkan juga
berpuasa sesudahnya yaitu tanggal 11 Muharram. Di antara mereka ada yang
berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbas berikut:
صُومُوا
يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ
بَعْدَهُ يَوْمًا
“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan
selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah
setelahnya satu hari.” (HR Ahmad no. 2153, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 8189). (eiruelamirudin@gmail.com).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar