Selasa, 18 Mei 2021

ALASAN INDONESIA PEDULI PALESTINA

 Ini tulisan bagus dari perspektif diplomasi 

Diplomasi Indonesia dan Semangat Anti Imperialisme Negara Asia-Afrika

————————————

Oleh: Sunu Wibirama (Universitas Gadjah Mada, Indonesia)


Baru kemarin saya posting artikel tentang Zionisme, beredarlah berbagai macam status dan artikel di beranda saya yang sepertinya sedikit banyak muncul karena “tersulut” oleh artikel saya. Bisa juga status-status tersebut muncul karena “termakan” oleh propaganda media-media Zionis, informasi dari media sosial yang tidak begitu jelas siapa penulisnya dan dari mana informasi yang mereka dapat. Uniknya, status-status tersebut dibumbui dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan seperti ini: 

* Mengapa repot mengurus negara lain, bukankah di negara kita masih banyak hal yang harus diurus? 

* Donasi-donasi untuk rakyat Palestina jangan-jangan hanya mendanai aksi terorisme dari faksi-faksi militer semacam HAMAS, Jihad Islam, Fatah, dan yang semacamnya?   

* Propaganda bela Palestina sepertinya banyak diteriakkan oleh kaum-kaum radikal yang anti Pancasila? 

serta berbagai macam pertanyaan konyol lain yang membuat saya sangat-sangat heran. Jujur saya sempat berpikir seperti ini, 

“Jangan-jangan mereka tidak pernah belajar Pancasila, UUD 1945, dan sejarah negara kita ya? 

Rasanya tidak mungkin ‘kan mereka buta huruf ya?”

Ijinkan saya bercerita sejenak, supaya Anda memiliki literasi yang lebih baik terhadap peran negara kita di dunia internasional. Saya sertakan pula referensi di akhir artikel ini sebagai rujukan jika Anda ingin membaca kisah lebih lengkapnya. 

***

Indonesia sudah sewajarnya berperan aktif dalam urusan negara-negara dunia ketiga. Kita harus tahu bahwa Indonesia pernah menjadi pemimpin Gerakan Non-Blok (GNB) dan sempat menjadi host Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung. Peran aktif Indonesia ini sangat terlihat pada masa Presiden Indonesia Pertama, almarhum Ir. Soekarno. Saat Bung Karno menggagas KAA pada tahun 1953, Indonesia dan Pakistan secara tegas menolak keikutsertaan Israel dalam KAA. Menurut Bung Karno, Israel menjadi simbol imperialisme yang harus dienyahkan, sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa Arab-Afrika yang saat itu masih dalam kondisi penjajahan. Dalam KAA inilah Bung Karno menggagas bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk membentuk satu front anti-kolonialisme dengan memupuk dan membangun solidaritas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika [1, 2, 3].

Hal yang sama ditunjukkan oleh almarhum Bapak Soeharto, Presiden Indonesia Kedua. Pak Harto dengan gagah berani mengunjungi Bosnia-Herzegovina pada tahun 1995, sebagaimana diceritakan oleh Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Bapak Sjafrie Sjamsoeddin dalam buku “Pak Harto: The Untold Stories” [4]. Tahun 1995 adalah tahun-tahun kritis, di mana konflik Balkan tengah mencapai puncaknya. Pembantaian ini tercatat sebagai genosida dan pembersihan etnis paling dahsyat setelah Perang Dunia II selesai. 

Kedatangan Pak Harto ke Bosnia-Herzegovina sempat diwarnai perdebatan antara beliau dan pihak PBB [5, 6]. Awalnya, PBB tidak menyetujui rencana Pak Harto untuk melawat ke negara konflik ini. Akhirnya Pak Harto berhasil meyakinkan PBB, tetapi Pak Harto diminta untuk menandatangani surat pernyataan resiko. Artinya, PBB tidak akan bertanggung jawab jika suatu hal menimpa Pak Harto di Sarajevo, ibukota Bosnia-Herzegovina. 

Kedatangan Pak Harto di Bosnia-Herzegovina diceritakan oleh Sjafrie sebagai detik-detik yang mendebarkan, tapi sekaligus membanggakan. "Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah," ujar Sjafrie. Padahal saat mendarat, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat terbang terus bergerak mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongan Pak Harto. Dalam perjalanan menuju istana Presiden Bosnia-Herzegovina, rombongan Pak Harto bahkan harus melewati Lembah Sniper yang menjadi tempat pertarungan penembak jitu Serbia dan Bosnia-Herzegovina. Tak berbilang banyaknya korban di lokasi tersebut, namun Pak Harto dan rombongan tetap nekat melawat ke istana Presiden Bosnia-Herzegovina. 

***

Setelah Pak Harto tiba di istana Presiden Bosnia-Herzegovina, Pak Harto merasakan betapa kondisi perang benar-benar memporak-porandakan fasilitas negara. Kondisi istana sangat memprihatinkan, bahkan tidak ada air mengalir sehingga ember pun menjadi sarana untuk mengambil air bersih. Presiden Bosnia-Herzegovina Alija Izetbegovic menyambut hangat rombongan Pak Harto. Beliau benar-benar terharu dan bahagia, melihat rombongan Indonesia bersusah payah melewati bahaya, hanya untuk memberikan dukungan moril kepada negara yang sedang dalam kondisi penjajahan total ini. 


Setelah kunjungan kenegaraan usai dan rombongan Indonesia meninggalkan istana Presiden, Sjafrie bertanya kepada Pak Harto terkait alasan beliau mengunjungi Presiden Alija Izetbegovic. Sjafrie heran bukan main, mengapa Pak Harto nekat melawat ke Sarajevo saat konflik Balkan sedang dalam kondisi puncak, bahkan tidak menghiraukan keselamatan dirinya. 

Apa jawaban Pak Harto? 

  

"Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non-Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok," jawab Pak Harto.

"Tapi resikonya sangat besar, Pak" kata Sjafrie lagi.

"Ya itu bisa kita kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka jadi tambah semangat," kata Pak Harto. Jawaban-jawaban Pak Harto ini sangat membekas dan dikenang oleh Sjafrie sampai hari ini. Pak Harto benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin, baik untuk rombongan Indonesia maupun bagi negara yang dikunjungi. 

Kelak, lawatan itu menumbuhkan kenangan yang sangat mendalam di hati rakyat Bosnia-Herzegovina. Lawatan itu sekaligus menjadi awal berdirinya sebuah masjid di Sarajevo, sebagai hadiah dari rakyat Indonesia kepada rakyat Bosnia-Herzegovina. Masyarakat Bosnia biasa menyebut masjid itu sebagai Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto.  

*** 

Demikianlah adanya, cerita singkat tentang peran negara kita di dunia internasional. Negara kita adalah negara besar. Negara yang pernah terjajah lebih dari tiga abad lamanya dan berhasil memerdekakan diri dengan daya upaya seluruh rakyat Indonesia, serta bantuan moril, dukungan, dan pengakuan dari dunia internasional yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Tak lepas pula, dukungan dari bangsa Palestina yang saat ini sudah 70 tahun lebih terjajah. 

Tahun 1944, Mufti Palestina Syaikh Muhammad Amin Husaini memberikan “fatwa” dan dukungan tegas untuk kemerdekaan Indonesia. Fatwa ini diiringi pula dengan dukungan kepada Indonesia dari negara-negara Arab dan Afrika lainnya, yang dengan serta merta menolak praktik-praktik imperialisme di negara kita. Tahun 1947, beberapa diplomat kita berhasil bertemu dengan para menteri dan pimpinan negara Asia-Afrika untuk mendapatkan dukungan resmi bagi proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Cerita selengkapnya bisa dibaca di buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" [7]. 

Masihkah kita bertanya lagi?

Jika masih ragu, coba lihat bagaimana respon penduduk Palestina berikut ini, saat mereka diminta membakar bendera Indonesia dengan imbalan uang 100 USD (saya sempat terharu dan bangga melihat respon dari penduduk Palestina):

https://www.youtube.com/watch?v=KRl7H5efmT4

Anda akan melihat jawaban-jawaban tulus dan di sanalah kita akan semakin yakin bahwa founding fathers negara kita tidak keliru saat merumuskan Pembukaan UUD 1945: 

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sekali lagi, bacalah sejarah negara kita. Bung Karno dan Pak Harto telah memberikan contoh untuk kita semua. Bantuan dan dukungan solidaritas kita sangat dinanti oleh saudara-saudara kita yang saat ini masih terkungkung dalam penjajahan.


Jogja 17 Mei 2021


*Silahkan share artikel ini, tidak perlu minta ijin. Semoga membuka mata kita semua dan menghilangkan keraguan di hati.

Referensi: 

1. Museum KAA, "Pesan Presiden Soekarno di Pembukaan KAA: Pupuk Terus Solidaritas Asia Afrika!", 2020. Tautan online: http://asianafricanmuseum.org/en/pesan-presiden-soekarno-di-pembukaan-kaa-pupuk-terus-solidaritas-asia-afrika/

2. Museum KAA, "The History of the Asian-African Conference", 2020. Tautan online: http://asianafricanmuseum.org/en/sejarah-konferensi-asia-afrika/

3. Tempo, "Isi Lengkap Pidato Dahsyat Bung Karno di KAA 1955", 2015. Tautan online: https://nasional.tempo.co/read/659174/isi-lengkap-pidato-dahsyat-bung-karno-di-kaa-1955/full&view=ok

4. Mahpudi dkk. "Pak Harto: The Untold Stories", Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011. 

5. Linda Djalil, "Catatan Tercecer tentang Soeharto ke Bosnia 15 Tahun Silam (I)", Soeharto.Co, 2011. Tautan online: https://soeharto.co/catatan-tercecer-tentang-soeharto-ke-bosnia-15-tahun-silam/

6. Linda Djalil, "Catatan Tercecer tentang Soeharto ke Bosnia 15 Tahun Silam (II)", Soeharto.Co, 2011. Tautan online: https://soeharto.co/catatan-tercecer-tentang-soeharto-ke-bosnia-15-tahun-silam-2/


7. M. Zein Hassan, "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri", Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DENGKUL DAN PINGGUL

Jum at 25 June 2021 Oleh : Dahlan Iskan DENGKUL DAN PINGGUL IA pengusaha kaya. Punya pabrik kecap dan saus. Punya kebun durian. Vilanya di l...